×
Ad

Amukan Dolar AS Sudah Terasa Sampai Pedagang dan Petani

Ignacio Geordi Oswaldo - detikFinance
Selasa, 19 Mei 2026 07:15 WIB
Ilustrasi/Foto: Gilang Faturahman/detikfoto
Jakarta -

Pelemahan rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) hingga ke titik terendah sepanjang sejarah di level Rp 17.600 mulai merembet ke pedagang di pasar tradisional hingga para petani di desa-desa. Sebab pelemahan mata uang Garuda itu turut mengerek harga sejumlah komoditas.

Salah seorang pedagang daging sapi di Pasar Senen, Fahmi, mengatakan sebagian besar sapi potong di pasar didatangkan dari Australia alias impor. Namun, karena sudah dibesarkan atau dipelihara selama satu hingga dua bulan di Indonesia, daging yang dihasilkan tetap disebut sebagai daging "lokal".

Karena ketergantungan pada impor sapi ini, kenaikan nilai dolar AS terhadap rupiah secara tidak langsung membuat harga beli sapi potong mengalami kenaikan yang cukup signifikan. Pada akhirnya, kondisi ini mendorong harga daging sapi naik di tingkat pemasok (rumah potong), pedagang, hingga konsumen.

"Harga daging naik karena dari impornya naik kan, dolar naik katanya. Jadi mungkin pengaruhnya dari sana. Kalau dolar naik, harga ikut naik, soalnya beli sapinya juga sudah naik. Katanya sih begitu, saya kurang tahu detailnya, tapi dari rumah potong bilang begitu, dari impornya memang naik gara-gara itu," jelas Fahmi saat ditemui detikcom di Pasar Senen, Jakarta Pusat.

Akibatnya, menurut Fahmi, harga daging sapi di pasar saat ini sudah sangat tinggi, yakni di kisaran Rp 150 ribu per kilogram, dari harga normal sekitar Rp 130 ribu per kilogram. Begitu juga dengan daging impor beku yang biasanya berada di kisaran Rp 110 ribu per kilogram, kini naik menjadi Rp 120.000-Rp 130.000 per kilogram.

"Kalau daging lokal rata-rata Rp 150 ribu per kilogram, tapi bisa Rp 145 ribu kalau lagi turun, sampai Rp 160 ribu kalau naik. Impor beku sekarang Rp 120 ribu, bisa Rp 130 ribu, tergantung jenis dagingnya juga," ucapnya.

Hal senada juga disampaikan pedagang bawang dan tahu di Pasar Senen, Davi. Ia mengatakan pelemahan rupiah terhadap dolar secara tidak langsung sudah membuat harga tahu yang dijualnya ikut naik di tingkat pabrik.

Ia menjelaskan, kedelai sebagai bahan baku utama tahu masih mengandalkan impor, sehingga perubahan nilai tukar turut memengaruhi ongkos produksi.

"Harga kedelainya kan naik. Kalau tahu pakai kedelai impor. Jadi bisa jadi karena rupiah sama ongkos kirim kedelainya lagi naik. Mungkin rentetannya begitu, ongkos produksi jadi besar, harga di pasar ikut naik," ujar Davi.

Dalam hal ini, ia mengatakan harga tahu di tingkat pabrik sudah naik sekitar Rp 100-200 per potong. Sementara untuk menjaga daya beli masyarakat, ia harus menahan harga jual ke konsumen yang secara otomatis mengurangi keuntungan yang bisa didapatkan.




(igo/fdl)

Berita Terkait
Berita detikcom Lainnya
Berita Terpopuler

Video

Foto

detikNetwork