×
Ad

Kolom

Bersiap Menuju Tatanan Ekonomi Baru

Agus Herta Sumarto - detikFinance
Selasa, 09 Jun 2026 11:47 WIB
Foto: Pradita Utama/detikFoto
Jakarta -

Dalam dunia sepak bola, kemenangan sering kali ditentukan oleh keberanian mengubah strategi. Ketika pola permainan lama tidak lagi efektif, pelatih melakukan penyesuaian taktik, mengganti pemain, bahkan mengubah formasi untuk mengejar hasil yang lebih baik.

Logika yang sama berlaku dalam pembangunan ekonomi. Ketika lingkungan global berubah dan berbagai kelemahan lama mulai terlihat, sebuah negara perlu berani mengevaluasi strategi yang selama ini dijalankan. Tujuannya bukan menafikan keberhasilan masa lalu, melainkan memastikan bahwa pembangunan mampu menjawab tantangan masa depan.

Selama puluhan tahun Indonesia mengejar pertumbuhan ekonomi dengan keyakinan bahwa keterbukaan pasar, investasi, dan integrasi global pada akhirnya akan membawa bangsa ini menuju kemakmuran. Sebagian keberhasilan memang tercapai. Namun semakin sering dunia diguncang krisis, semakin jelas terlihat bahwa pertumbuhan ekonomi tidak selalu identik dengan ketahanan ekonomi.

Pertanyaan yang kini perlu dijawab bukan lagi bagaimana meningkatkan pertumbuhan setinggi mungkin, melainkan bagaimana membangun pertumbuhan yang lebih mandiri. Sebab pengalaman menunjukkan bahwa negara yang terlalu bergantung pada pangan impor, energi impor, teknologi impor, dan modal asing akan selalu rentan terhadap gejolak yang berasal dari luar batas negaranya sendiri.

Kekuatan Ekonomi yang Rapuh

Selama beberapa dekade, strategi pembangunan nasional memang berhasil menciptakan pertumbuhan ekonomi yang relatif tinggi. Namun keberhasilan tersebut juga dibangun di atas sejumlah asumsi yang kemudian terbukti menyimpan kerentanan. Industrialisasi berkembang, tetapi sebagian besar masih bergantung pada bahan baku, komponen, mesin, dan teknologi impor. Akibatnya, ketika nilai tukar rupiah melemah atau rantai pasok global terganggu, biaya produksi nasional ikut melonjak dan daya saing industri domestik tertekan.

Ketergantungan tersebut tidak hanya terjadi pada sektor industri. Dalam pembiayaan pembangunan, Indonesia juga cukup lama mengandalkan arus modal asing untuk menutup kebutuhan investasi domestik. Defisit transaksi berjalan yang berulang kali terjadi sering kali ditutup melalui masuknya modal portofolio jangka pendek.

Dalam kondisi normal, strategi ini memang mampu menyediakan likuiditas dan pembiayaan yang dibutuhkan perekonomian. Namun ketika terjadi gejolak global, modal yang masuk dengan cepat dapat pula keluar dengan cepat.

Pengalaman krisis Asia tahun 1997-1998 maupun berbagai episode gejolak pasar keuangan global menunjukkan bahwa fondasi ekonomi yang terlalu bergantung pada arus modal jangka pendek sangat rentan terhadap perubahan sentimen investor internasional. Ketika kepercayaan pasar menurun, nilai tukar tertekan, pasar keuangan bergejolak, dan ruang kebijakan pemerintah menjadi semakin sempit.

Masalah lain yang tidak kalah penting adalah kecenderungan membuka diri terhadap globalisasi ekonomi tanpa terlebih dahulu menyiapkan fondasi domestik yang memadai. Integrasi perdagangan dan keuangan global memang membawa banyak manfaat, tetapi manfaat tersebut tidak selalu terdistribusi secara merata apabila kapasitas produksi nasional, penguasaan teknologi, ketahanan pangan, dan ketahanan energi belum cukup kuat. Akibatnya, Indonesia menjadi peserta dalam arus globalisasi, tetapi belum sepenuhnya menjadi pengendali arah perjalanannya.



Simak Video "Video: #Tanyadetikfinance Ekonomi Tumbuh 5,6%, Apa Artinya buat Gaji Kamu?"


(ang/ang)
Berita Terkait
Berita detikcom Lainnya
Berita Terpopuler

Video

Foto

detikNetwork