Ada dua ekonom Amerika Serikat (AS) yang selama ini menjadi rujukan dalam kajian ekonomi makro internasional, yaitu Maurice Obstfeld dari University of California, Berkeley dan Kenneth Rogoff dari Harvard University.
Artikelnya yang sangat populer berjudul "The Six Major Puzzles in International Macroeconomics: Is There a Common Cause?" Terdapat enam "teka-teki utama" dalam ekonomi makro internasional yang menjadi perhatian para ekonom dan pengambil kebijakan.
Salah satu dari enam "teka-teki utama" tersebut dan relevan dengan fenomena depresiasi ekstrim nilai tukar rupiah per dolar AS adalah home bias puzzle.
Home bias didefinisikan sebagai kecenderungan investor berinvestasi pada asset negaranya sendiri, meskipun pendapatan memegang asset negara lainnya lebih besar.
Di mana, sejak tahun 1990-an hingga 2000-an awal, terdapat sekitar 94% investor AS berinvestasi pada asset negaranya sendiri.
Fenomena home bias puzzle ini juga yang dapat menjelaskan mengapa model-model moneter penentuan nilai tukar menggunakan faktor fundamental menjadi tidak akurat memprediksi pergerakan nilai tukar.
Hal ini mengingatkan kita dengan pertanyaan Queen Elizabeth II, ratu Inggris saat berkunjung ke London School of Economics (LSE) pada bulan November 2008.
Sang ratu menantang para ekonom hebat di LSE terkait krisis keuangan dahsyat tahun 2008. Krisis keuangan terbesar sepanjang sejarah.
Pertanyaannya sederhana tetapi mendalam, "Why no one saw the financial crisis coming?" Pertanyaan ini yang kemudian menjadi headline media utama dunia, seperti The Guardian, Telegraph, New York Time dan lainnya.
Frekuensi krisis keuangan semakin tinggi. Dan tidak satupun dari krisis tersebut dapat diprediksi secara tepat oleh para ekonom. Model proyeksi ekonomi diharapkan sama dengan model proyeksi cuaca yang dapat menentukan kapan akan terjadi hujan atau cerah.
Simak Video "Video: Rupiah Babak Belur ke Level Rp 17.300 per Dolar AS"
(ang/ang)