×
Ad

Ini yang Bikin IHSG & Rupiah Kompak Tancap Gas

Andi Hidayat - detikFinance
Selasa, 16 Jun 2026 06:55 WIB
Ilustrasi/Foto: Ari Saputra/detikFoto
Jakarta -

Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) dan nilai tukar rupiah menguat pada penutupan perdagangan Senin (15/6/2026). Keduanya menguat menyusul perjanjian perdamaian antara Amerika Serikat (AS) dan Iran yang rencananya ditandatangani dalam waktu dekat hingga akumulasi kebijakan pemerintah.

Berdasarkan data RTI Business, IHSG diketahui menguat 4,12% ke level 6.254,96 pada penutupan perdagangan Senin. Sejalan dengan hal tersebut, papan perdagangan utama LQ45 juga mencatat penguatan 4,56% ke level 624.682 dengan 603 saham menguat, 125 saham melemah, dan 90 saham stagnan.

Kemudian berdasarkan data Bloomberg, rupiah berhasil menguat terhadap dolar AS sebesar 0,85% ke level Rp 17.708 hingga penutupan perdagangan hari ini. Sebelum penutupan perdagangan, rupiah juga sempat menekan dolar AS ke level Rp 17.673,5 atau menguat 1,04% sekitar pukul 11.26 WIB.

Pemicu Penguatan IHSG

Senior Market Analyst Mirae Asset Sekuritas, Nafan Aji Gusta, mengatakan pergerakan IHSG kuat didorong oleh sentimen global. Sentimen ini utamanya terjadi menyusul kesepakatan damai untuk mengakhiri perang antara AS dan Iran.

Kemudian bursa saham Asia seperti Nikkei 225 Index (N225) juga menguat 4,96% ke level 69.295,39, Hang Seng Index (HSI) juga menguat 0,58% ke level 24.857,22, Shanghai Composite Index (SSEC) juga menguat 0,94% ke level 4.069,21, dan Straits Time Index (STI) menguat 1,07% ke level 5.079,37.

"Penguatan IHSG memang sejatinya dipengaruhi oleh faktor global, sebenarnya lebih dominan global ya, karena kita lihat di regional pun juga terapresiasi dengan baik," ungkap Nafan kepada detikcom, Senin (15/6/2026).

Nafan mengatakan, perjanjian damai ini akan membuka kembali Selat Hormuz. Menyusul kesepakatan tersebut, ia menyebut harga minyak dunia terpantau turun bahkan lebih dari 4%. Menurutnya, hal ini mendorong turunnya kekhawatiran investor terkait inflasi global akibat tekanan dari harga minyak dunia.

Sementara pada sentimen domestik, Nafan menyebut pasar menyambut baik terkait pembatalan skema kontrak bagi hasil (gross split) dan relaksasi RKAB di sektor pertambangan mineral dan batu bara (minerba). Selain itu, pasar juga disebut tengah menanti hasil Rapat Dewan Gubernur Bank Indonesia (RDG BI) pekan ini.

"Ini sebelumnya juga sempat memberikan nafas lega bagi market ya sejak pekan yang lalu," imbuhnya.

Sementara itu, indeks saham Garuda sendiri disebut telah berada di bawah nilai wajar atau oversold pada saat menembus level 5.400 beberapa waktu lalu. Kemudian saat ini, IHSG mulai kembali pada fase penguatan yang diketahui telah menguat 18,11% sepanjang perdagangan lima hari terakhir.

"IHSG sendiri memang sudah oversold disaat menyentuh 5.400 an dan saat ini sedang dalam fase rebound," ungkap Direktur Infovesta Utama, Wawan Hendrayana.

Meski begitu, Wawan mengingatkan IHSG masih dibayangi aksi ambil untuk investor atau profit taking jika terdapat sentimen negatif. Sentimen tersebut dapat berasal dari meningkatnya kembali eskalasi AS-Iran hingga FOMC pekan ini.

Wawan juga tak menampik kenaikan IHSG ditopang oleh kesepakatan damai kedua negara tersebut. Kesepakatan itu membuka harapan dibuka kembalinya Selat Hormuz dan menurunkan harga minyak dunia yang dapat menurunkan tekanan subsidi dan fiskal bagi Indonesia.

"Tentu saja dengan kenaikan yang signifikan dalam 1 minggu, sangat mungkin akan terjadi profit taking bila katalis negatif datang," pungkasnya.




(acd/acd)

Berita Terkait
Berita detikcom Lainnya
Berita Terpopuler

Video

Foto

detikNetwork