Penyedia indeks saham global, MSCI, mempertahankan status pasar modal Indonesia di Emerging Market. Indonesia saat ini berada sejajar dengan sejumlah negara Amerika Selatan, Eropa, Timur Tengah, dan Asia-Pasifik.
Berdasarkan hasil MSCI 2026 Market Classification Review, bursa global berstatus Emerging Market diklasifikasikan berdasarkan batas geografi. Untuk negara-negara di kawasan Asia-Pasific (APAC), Indonesia sejajar dengan China, India, Korea, Malaysia, Filipina, Taiwan, dan Thailand.
Kemudian di kawasan Eropa, Timur Tengah, dan Afrika (EMEA), bursa saham yang masuk dalam Emerging Market adalah Republik Ceko, Mesir, Yunani, Hungaria, Kuwait, Polandia, Qatar, Arab Saudi, Afrika Selatan, Turki, dan Uni Emirat Arab (UAE). Kemudian di jajaran Amerika Selatan, bursa saham yang berstatus Emerging Markets adalah Brazil, Chile, Colombia, Mexico, hingga Peru.
Dalam pengumuman terbaru MSCI, lembaga internasional itu juga mengakui reformasi pasar modal yang dilakukan oleh Self-Regulatory Organization (SRO). Reformasi pasar modal yang diakui mencakup peningkatan keterbukaan informasi mengenai pemegang saham dengan kepemilikan di atas 1%, klasifikasi investor yang lebih rinci, penerapan kerangka High Shareholding Concentration (HSC), dan kenaikan free float menjadi 15%.
Namun begitu, MSCI masih memberikan catatan penting bagi pasar modal Indonesia terkait isu transparansi. Lembaga tersebut mengaku telah menerima keluhan investor struktur kepemilikan saham yang dianggap tidak transparan dan indikasi perdagangan terkoordinasi.
"Kedua kekhawatiran tersebut secara signifikan membatasi kemampuan investor untuk menilai jumlah saham yang benar-benar beredar (free float) dan mengandalkan harga pasar yang teramati dalam penyusunan portofolio serta replikasi indeks, dan hal ini berkaitan langsung dengan pilar information flow dan infrastruktur pasar dalam kerangka kerja aksesibilitas pasar MSCI," tulis MSCI dalam pengumumannya, Rabu (24/6/2026).
(ahi/hns)