×
Ad

Tarif Baru Trump Bikin IHSG Anjlok

Andi Hidayat - detikFinance
Jumat, 24 Jul 2026 18:36 WIB
Ilustrasi.Foto: Gilang Faturahman/detikFoto
Jakarta -

Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) terkoreksi pada perdagangan Jumat (24/7/2026). Pelemahan indeks dipicu sentimen global, terutama kebijakan Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump yang menetapkan tarif impor baru bagi 60 mitra dagang, di tengah memanasnya konflik di Timur Tengah.

Berdasarkan data RTI Business, IHSG diketahui melemah hingga 1,88% ke level 6.196,43 dengan indeks papan perdagangan utama LQ45 yang terkoreksi 1,97% hingga penutupan perdagangan sore ini. Terdapat 104 saham menguat, 587 saham melemah, dan 105 saham stagnan.

Head of Retail Research MNC Sekuritas, Herditya Wicaksana, mengatakan investor saat ini mencermati tarif baru AS sebesar 10% hingga 12,5% kepada puluhan mitra dagangnya, termasuk Indonesia. Berdasarkan laporan Reuters, diketahui tarif baru ini dikenakan kepada negara yang dianggap lemah dalam menegakkan larangan terhadap produk yang dibuat menggunakan tenaga kerja paksa.

"Investor mencermati akan pemberlakuan tarif impor baru dari AS sebesar 10-12,5% terhadap 60 mitra dagang termasuk Indonesia," ungkap Herditya kepada detikcom, Jumat (24/7/2026).

Sentimen selanjutnya, investor mencermati konflik di Timur Tengah yang kembali mengerek harga minyak mentah dunia tembus di atas level US$ 100 per barel. Di tengah kondisi tersebut, kekhawatiran arah suku bunga tinggi juga meningkat imbas terbukanya ruang peningkatan inflasi global.

"Meningkatnya kembali kekhawatiran investor akan inflasi global dan memperbesar peluang bank sentral untuk higher for longer," terangnya.

Sementara itu, Phintraco Sekuritas menilai terjadi aksi ambil untung atau profit taking investor seiring meningkatnya kekhawatiran akan perang di Timur Tengah. Hingga penutupan perdagangan pelemahan terbesar terjadi pada sektor cyclical sebesar 3.04%.

"Setelah sempat menembus level 6,400 secara intraday pada pekan ini, IHSG melemah pada Jumat akibat sentimen negatif dari kenaikan harga minyak mentah yang memicu terjadinya profit taking," tulis riset Phintraco Sekuritas.

Phintraco Sekuritas menilai, konflik yang berkepanjangan mendorong harga minyak mentah dunia bertahan di level tinggi dalam waktu lama. Hal ini mendorong meningkatnya kembali laju inflasi global. Sentimen selanjutnya berasal dari langkah AS yang memberlakukan tarif impor tambahan sebesar 10% atas produk asal Indonesia.

"IHSG ditutup di bawah level MA5, namun masih bertahan di atas level MA10. Histogram positif MACD berlanjut menyempit dan Stochastic RSI mengalami pembalikan arah menuju pivot area. Sehingga IHSG berpotensi akan menguji level 6.000-6.100 pada pekan depan jika harga minyak masih bertahan di level tinggi," pungkasnya.




(ahi/hns)
Berita Terkait
Berita detikcom Lainnya
Berita Terpopuler

Video

Foto

detikNetwork