Market Overview
Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) kembali berakhir di zona merah pada perdagangan Rabu (9/9/2026). IHSG turun 0,12% ke level 6.678,20.
Sejumlah saham menjadi penggerak perdagangan. AMMN naik 5,14%, disusul IMPC yang menguat 9,51% dan AADI sebesar 5,96%. Di sisi lain, BBCA turun 2,25%, BMRI melemah 0,90%, sementara ASII terkoreksi 1,62%.
Tekanan juga datang dari investor asing. Di pasar reguler, tercatat penjualan bersih asing sebesar Rp621,40 miliar. Jika memperhitungkan seluruh pasar, penjualan bersih asing mencapai Rp438,52 miliar.
Pergerakan sektoral turut menunjukkan tekanan. Sebanyak 6 dari 11 sektor berakhir melemah. Sektor Healthcare menjadi yang mengalami penurunan paling dalam, yakni 1,33%. Sebaliknya, Transportation & Logistic mencatat penguatan terbesar sebesar 2,41%.
Dari bursa Amerika Serikat, tiga indeks utama juga ditutup melemah. Dow Jones turun 0,77% ke level 52.380, S&P 500 terkoreksi 0,48% ke 7.636, dan Nasdaq turun 0,64% ke 26.253.
Pelemahan sektor Healthcare sebesar 1,33% disebut mencerminkan aksi ambil posisi setelah katalis erupsi Anak Krakatau mulai kehilangan momentum. Tekanan juga terlihat pada ETF EIDO yang turun 0,68% serta indeks MSCI Indonesia yang melemah 0,99%.
Berita Emiten
Surya Semesta Internusa (SSIA)
SSIA menyiapkan belanja modal atau capital expenditure (capex) sebesar Rp2,20 triliun untuk 2026. Porsi terbesar akan digunakan untuk pengembangan kawasan Subang Smartpolitan.
Sekitar Rp1,50 triliun dialokasikan untuk kebutuhan akuisisi lahan dan pengembangan lahan. Selain itu, SSIA menyediakan Rp330 miliar untuk proses rebranding Paradisus by Meliá Bali. Hingga semester I-2026, realisasi dana untuk kebutuhan tersebut telah mencapai sekitar Rp200 miliar.
SSIA juga melakukan penyesuaian terhadap target pendapatan tahun ini. Pendapatan 2026 diproyeksikan mencapai Rp7,20 triliun, turun dari target sebelumnya sebesar Rp7,50 triliun.
Penyesuaian target tersebut berkaitan dengan adanya penundaan penjualan serta pergeseran kontrak NRCA. Meski target pendapatan berubah, SSIA tetap mempertahankan target laba bersih sebesar Rp400 miliar pada akhir 2026.
Jika tercapai, target tersebut mencerminkan pertumbuhan laba bersih hingga 570% dibandingkan tahun sebelumnya.
Jasa Marga (JSMR)
JSMR menganggarkan capex sekitar Rp12 triliun pada 2026. Sampai semester I-2026, realisasi belanja modal perseroan telah mencapai Rp4,40 triliun.
Anggaran tersebut diarahkan untuk mempercepat pembangunan serta pengoperasian lima proyek jalan tol. Proyek yang dimaksud meliputi Jakarta-Cikampek II Selatan seksi Setu-Sadang, Akses Patimban, Jogja-Bawen, Jogja-Solo, dan Probolinggo-Banyuwangi.
Untuk Tol Jogja-Bawen, Seksi 6 Ambarawa-Bawen sepanjang 4,98 kilometer ditargetkan mulai beroperasi pada November 2026. Sementara Seksi 1 Yogyakarta-SS Banyurejo ditargetkan rampung konstruksinya pada akhir September 2026.
JSMR menargetkan Tol Akses Patimban sepanjang 14 kilometer dapat mulai beroperasi pada 2028. Sementara pada ruas Probolinggo-Banyuwangi dengan total panjang 49,68 kilometer, Seksi Paiton-Besuki telah memasuki tahap Uji Laik Fungsi Operasi (ULFO).
Ruas tersebut ditargetkan mulai beroperasi pada akhir 2026 atau awal 2027. Secara keseluruhan, JSMR menargetkan tambahan sekitar 62 kilometer jalan tol dapat beroperasi pada akhir 2026 hingga awal 2027.
Bank Kasikorn Indonesia (BMAS)
BMAS berencana melaksanakan penambahan modal melalui PMHMETD IV atau rights issue. Perseroan menetapkan rasio 655:104 dengan jumlah saham baru maksimal 2,87 miliar saham.
Jumlah tersebut setara dengan 13,70% dari modal ditempatkan dan disetor penuh setelah pelaksanaan PMHMETD IV. Harga pelaksanaan ditetapkan sebesar Rp350 per saham.
Dengan skema tersebut, BMAS berpotensi memperoleh dana sekitar Rp1,01 triliun. Seluruh dana hasil aksi korporasi tersebut akan digunakan sebagai modal kerja untuk mendukung peningkatan penyaluran kredit.
Kasikorn Vision Financial Company Pte. Ltd. (KVF), sebagai pemegang saham utama BMAS dengan kepemilikan saat ini sebesar 86,03%, menyatakan akan melaksanakan seluruh HMETD yang menjadi haknya. Termasuk HMETD yang dialihkan dari Kasikornbank (KBANK).
KVF juga akan bertindak sebagai pembeli siaga. Dengan demikian, kepemilikan KVF di BMAS berpotensi meningkat menjadi sekitar 86,37% hingga 87,81%.
Sementara itu, pemegang saham lama yang tidak mengambil haknya dalam PMHMETD IV berpotensi mengalami dilusi maksimal sebesar 13,70%.
Adapun periode perdagangan dan pelaksanaan HMETD dijadwalkan berlangsung pada 27 November hingga 3 Desember 2026. Cum-right di pasar reguler dan negosiasi ditetapkan pada 23 November 2026.
Rekomendasi Saham Hari Ini
ARCI - Buy 1330-1340 | TP 1360-1380 | SL 1270
TLKM - Buy 2640-2660 | TP 2680-2720 | SL 2510
HRUM - Buy 965-975 | TP 1000-1010 | SL 925
JARR - Buy 3390-3410 | TP 3450-3500 | SL 3170
AKRA - Buy 1540-1550 | TP 1565-1580 | SL 1455
Disclaimer: Ingat, bahwa segala analisis dan rekomendasi saham dalam artikel ini bersifat informatif sekaligus bukan merupakan ajakan untuk membeli atau menjual saham tertentu.
(ang/ang)