×
Ad

Wamenko Perekonomian: MSCI Tidak Selalu Benar!

Andi Hidayat - detikFinance
Jumat, 16 Okt 2026 13:54 WIB
Foto: Andi Hidayat
Jakarta -

Wakil Menteri Koordinator (Wamenko) Bidang Perekonomian, Dradjad Hari Wibowo, menyebut keputusan MSCI tidak selalu benar. Hal tersebut ia ungkap menyusul pengumuman MSCI terkait potensi penurunan status pasar modal RI dari Emerging Market menjadi Standalone Market.

Ia menjelaskan, sebuah analisis di Jerman menemukan adanya ketimpangan pergerakan antara saham-saham dalam indeks Deutscher Aktien Index (DAX) dan saham Jerman yang masuk dalam indeks MSCI. Dradjad mengatakan, saat mayoritas saham DAX menguat, justru saham-saham Jerman di MSCI melemah.

"Satu hal yang ingin saya sampaikan kepada teman-teman investor domestik, ini tolong lakukan sendiri, hitung-hitungannya sendiri. Bahwa MSCI itu punya reputasi tinggi, iya. Bahwa kita juga perlu memperhatikan apa yang mereka sampaikan, iya. Tapi satu yang ingin saya sampaikan, mereka tidak selalu benar," tegasnya kepada wartawan di Kantor Kemenko Perekonomian, Jakarta, Jumat (16/10/2026).

"Ketika DAX ya, bursa Jerman itu naik tinggi, MSCI world, yang betul-betul dianggap dunianya MSCI, saham-saham yang direkomendasikan MSCI, malah negatif. Artinya apa? Artinya tidak semua yang dilakukan oleh MSCI itu menguntungkan bagi investor," tambahnya.

Menurutnya, kondisi pasar saham Jerman saat ini serupa dengan yang dialami Indonesia. Namun, investor di Jerman dinilai lebih berani menghitung dan menentukan sendiri keputusan investasinya.

Dradjad juga menyebut imbal hasil dana kelolaan MSCI masih lebih rendah dibandingkan lembaga penyedia investasi lainnya. Selain itu, sekitar 70% saham dalam indeks MSCI berasal dari Amerika Serikat (AS).

"Karena memang MSCI ini saham-sahamnya itu 70% didominasi saham Amerika. Kemudian 30% didominasi oleh saham teknologi. Jadi ada bias Amerika di situ, maksudnya bukan bias Amerika. Ada terlalu, bobot Amerika terlalu besar di situ," jelasnya.

Namun begitu, Dradjad mengatakan masukkan MSCI tetap menjadi perhitungan pemerintah untuk melakukan reformasi pasar modal. Ia hanya menginginkan investor domestik untuk mengambil keputusan investasi sendiri.

"Jadi yang ingin saya sampaikan ke teman-teman, betul apa yang dilakukan MSCI ini kita harus, kita memang harus melakukan reformasi di pasar modal kita, tata kelola harus kita perbaiki. Tapi tolong teman-teman investor, hitung sendiri. Anda lebih tahu mengenai pasar modal kita," pungkasnya.

Sebagai informasi, pelemahan IHSG hari ini terjadi menyusul pengumuman MSCI yang berpotensi menurunkan status pasar modal Indonesia dari Emerging Market menjadi Standalone Market. Hal tersebut masih dalam tahap konsultasi dengan pelaku pasar dan keputusan final akan diumumkan paling lambat pada 30 Juni 2027.

Dalam pengumuman MSCI, potensi penurunan status ini terjadi karena kekhawatiran berkelanjutan terkait aksesibilitas investasi dan tata kelola pasar saham Indonesia. Pelaku pasar menyampaikan kekhawatiran serius mengenai kelayakan investasi di pasar saham Indonesia.

"Kekhawatiran tersebut mencakup struktur kepemilikan saham yang terus dinilai tidak transparan serta dugaan aktivitas perdagangan yang terkoordinasi," tulis pengumuman MSCI dikutip Jumat (16/10/2026).




(acd/acd)
Berita Terkait
Berita detikcom Lainnya
Berita Terpopuler

Video

Foto

detikNetwork