Menteri Koordinator Bidang Perekonomian, Airlangga Hartarto, mengaku heran dengan pengumuman mendadak yang dikeluarkan oleh penyedia indeks saham global, MSCI, terkait status pasar modal Indonesia hari ini. Sebab pengumuman ini jauh lebih cepat dari perkiraan awal pemerintah.
Untuk diketahui, MSCI mengumumkan usulan perubahan klasifikasi pasar saham Indonesia dari Emerging Market menjadi Standalone Market. Hal ini terjadi karena akibat kekhawatiran berkelanjutan terkait aksesibilitas investasi dan tata kelola pasar saham Indonesia.
Rencana penurunan tersebut masih dalam tahap konsultasi dengan pelaku pasar dan keputusan final akan diumumkan paling lambat pada 30 Juni 2027.
"Pengumuman MSCI itu merupakan suatu hal yang katakanlah lebih cepat daripada ekspektasi. Kan sebetulnya mereka menjanjikannya di bulan November, tapi ini di Oktober," kata Airlangga saat ditemui di kantornya, Jakarta Pusat, Jumat (16/10/2026).
Belum lagi menurut Airlangga belum lama ini MSCI sempat bertemu dengan sejumlah pejabat Indonesia di Bangkok, Thailand. Namun dalam kesempatan itu MSCI tidak menyampaikan
"Kenapa sudah ketemu di Thailand kemarin nggak bicara masalah ini? Ini kan ada, ada tanda tanya besar. Kemarin di Thailand kok nggak ngomong yang ini? Padahal yang kemarin itu seminggu juga belum," ujarnya.
Namun terlepas dari waktu pengumuman yang lebih cepat dari perkiraan, ia lebih mempertanyakan sikap MSCI yang kerap kali menyudutkan pasar modal Indonesia jika dibandingkan dengan pasar modal lainnya.
"Kenapa rating agency yang lain tidak mempersoalkan hal ini dan kenapa MSCI secara sistematik selalu membuka atau membuat deadline? Nah, apalagi kemarin yang ketemu di Bangkok, pimpinannya, bukan analisnya," ucap Airlangga.
Meski mempertanyakan momentum pengumuman MSCI tersebut, Airlangga menegaskan pemerintah tetap berfokus untuk segera menerapkan langkah-langkah perbaikan pasar modal domestik. Ia pun mengimbau para investor untuk tetap tenang dan melihat kondisi fundamental ekonomi nasional yang masih kokoh di tengah sentimen pasar yang bergejolak.
"Kita punya fundamental ekonomi kuat, tetapi yang dimainkan kan sekarang faktor sentimental. Nah, tentu faktor sentimental ini kita berharap para investor paham mana yang sentimental, mana yang fundamental, dan mana yang diberikan oleh rating agency yang lain," pungkas Airlangga.
(igo/fdl)