Bursa Efek Indonesia (BEI) bersama Otoritas Jasa Keuangan (OJK) dan para pemangku kepentingan terus memperkuat koordinasi guna menjaga integritas pasar modal serta kepercayaan investor. Langkah ini dilakukan seiring pengumuman MSCI terkait usulan perubahan status pasar modal Indonesia dari Emerging Market menjadi Standalone Market.
P.H. Sekretaris Perusahaan PT Bursa Efek Indonesia, Valentina Simon menegaskan pihak bursa menghormati independensi MSCI dalam penilaian tersebut. Namun BEI akan meminta klarifikasi lebih lanjut mengenai dasar pertimbangan MSCI dalam pengumuman tersebut, mengingat berbagai langkah reformasi pasar telah dijalankan.
"Pengumuman MSCI masih berada dalam tahap konsultasi hingga 30 April 2027 dan belum merupakan keputusan final. Ke depan, BEI akan terus berkoordinasi dengan OJK dan seluruh pemangku kepentingan untuk memastikan perdagangan berlangsung secara teratur, wajar, dan efisien," tulis Valentina dalam rilis resminya, Sabtu (17/10/2026).
Baca juga: Indonesia Kena Prank MSCI |
Sebagai bagian dari respons BEI bersama pemangku kepentingan lainnya, konferensi pers bersama telah digelar di Gedung BEI pada Jumat (16/10). Jajaran petinggi negara hingga otoritas keuangan turut hadir langsung.
Dalam acara tersebut hadir Wakil Ketua DPR RI Sufmi Dasco Ahmad, Ketua Dewan Komisioner OJK Friderica Widyasari Dewi, CEO Danantara Indonesia Rosan Roeslani, COO Danantara Indonesia Dony Oskaria, Kapolda Metro Jaya Irjen Pol Suyudi Ario Seto, serta Kepala Eksekutif Pengawas Pasar Modal OJK Hasan Fawzi.
Hadir pula Direktur Pengembangan BEI Iding Pardi, Direktur Utama KPEI Antonius Herman Azwar, serta Direktur Utama KSEI Samsul Hidayat. Dalam forum tersebut, OJK menegaskan komitmennya untuk makin memperkuat penegakan hukum di sektor pasar modal demi menjaga integritas pasar.
Baca juga: Pengumuman MSCI Bikin IHSG & Rupiah Jatuh |
IHSG Anjlok 14,9% dalam Sepekan
Dinamika pasar modal sepanjang pekan ini (12-16 Oktober 2026), mayoritas berada di zona merah alias mengalami koreksi yang signifikan. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) tercatat merosot hingga 14,91% dan ditutup pada level 5.185,105 dari posisi pekan sebelumnya di level 6.093,759.
Bahkan pada perdagangan Jumat (16/10/2026) pagi pukul 08.58 WIB, BEI sempat melakukan penghentian sementara perdagangan (trading halt) menyusul anjloknya IHSG yang menyentuh angka 8%.
Sejalan dengan kejatuhan indeks, kapitalisasi pasar BEI tergerus 14,43% menjadi Rp 9.157 triliun dari pekan lalu yang berada di angka Rp 10.701 triliun.
Kemudian, rata-rata volume transaksi harian BEI pekan ini mengalami perubahan sebesar 5,22% menjadi 44,102 miliar lembar saham dari 46,533 miliar lembar saham pada pekan sebelumnya. Rata-rata nilai transaksi harian juga mengalami perubahan yaitu sebesar 0,07% menjadi Rp 16,21 triliun dari Rp 16,23 triliun pada pekan sebelumnya.
Selain itu, rata-rata frekuensi transaksi harian mengalami peningkatan sebesar 2,46% menjadi 1,72 juta kali transaksi dari 1,67 juta kali transaksi pada pekan lalu. Adapun investor asing hari ini mencatatkan nilai jual bersih Rp 3,34 triliun dan sepanjang tahun 2026 investor asing telah mencatatkan nilai jual bersih sebesar Rp 88,19 triliun.
(igo/ara)