×
Ad

Detik Pagi

BI Buka Suara soal Potensi Dolar AS Tembus Rp 22.000 Imbas MSCI

Arvi Ristiani Pratami - detikFinance
Jumat, 30 Okt 2026 07:58 WIB
Jakarta -

Rupiah disebut bisa semakin terpuruk imbas keputusan MSCI. Hal ini diungkap oleh Ketua Dewan Penasihat Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Indonesia, Hashim Djojohadikusumo yang mengatakan dolar Amerika Serikat (AS) bisa menyentuh Rp20.000 hingga Rp22.000.

MSCI sebelumnya diketahui membuka opsi penurunan status pasar modal Indonesia dari Emerging Market menjadi Standalone Market. Hashim mengatakan, pengumuman MSCI dapat memicu aksi jual investor asing di pasar modal Indonesia. Sehingga berimbas pada pelemahan rupiah terhadap dolar AS.

"Kalau investasi luar negeri keluar dari bursa saham kita, rupiah bisa semakin lemah. Saya sudah hitung bisa Rp 20.000 sampai Rp 21.000. Ada yang bilang Rp 22.000. Saya pernah diskusi sama Pak Rosan (CEO BPI Danantara), kalau itu terjadi rupiah bisa Rp 21.000-Rp 22.000, pinjaman luar negeri kita harus kita bayar lebih mahal, ini bisa jadi bencana dan malapetaka bagi ekonomi Indonesia," ungkap Hashim dalam sambutannya di acara Rapimnas Kadin Indonesia di Hotel Borobudur, Jakarta, Kamis (29/10/2026).

Hashim mengatakan, ancaman penurunan status pasar modal Indonesia tak lepas dari indikasi praktik perdagangan yang tidak sehat. Salah satunya, dugaan manipulasi harga saham atau yang dikenal dengan istilah saham gorengan.

"Saya nggak usah sebut siapa, tapi ada saham-saham yang istilahnya digoreng, itu betul atau tidak? Ini yang disorot, dan dipertahankan, dan dipersoalkan," tegasnya.

Gubernur Bank Indonesia (BI) Destry Damayanti pun buka suara soal potensi terpuruknya nilai tukar rupiah. Destry menegaskan, BI akan terus menjaga stabilitas rupiah. Ia menyebut fundamental ekonomi Indonesia masih relatif terjaga, meski pergerakan rupiah dipengaruhi berbagai faktor.

"Jadi kalau kita lihat pergerakan rupiah kan memang sangat banyak faktor yang mempengaruhi. Tapi kalau kita lihat dari fundamental ekonomi kita, sebenarnya kita dalam kondisi yang relatif yang oke dibandingkan dengan peer group kita," ungkap Destry.

Destry menjelaskan, pergerakan rupiah bagian dari dinamika pasar yang wajar. Ia juga menegaskan, nilai tukar rupiah dipengaruhi oleh keseimbangan permintaan dan penawaran serta persepsi pelaku pasar.

Ia mencontohkan, sentimen global juga dapat memengaruhi pergerakan rupiah sebagaimana terjadi setelah keputusan Federal Reserve (The Fed) untuk tidak menaikkan suku bunga yang memberikan sentimen positif bagi pasar. Menurutnya, ada sejumlah faktor eksternal yang berada di luar kendali Indonesia.

"Kalau kita lihat hari ini juga penguatan terjadi di global, 'Oh Amerika nggak naikkan suku bunga The Fed', dampaknya ternyata langsung positif. Jadi banyak faktor yang di luar kontrol dari kita," jelasnya.

Destry menambahkan, BI berkomitmen menjaga stabilitas ekonomi, terutama nilai tukar rupiah. Menurutnya, stabilitas menjadi prioritas untuk menciptakan iklim ekonomi yang kondusif sehingga sektor riil dapat tumbuh dan membuka lebih banyak lapangan kerja.

Simak pembahasan lengkapnya terkait potensi terpuruknya nilai tukar rupiah hanya di detikPagi edisi Jumat (30/10/2026).

Nikmati terus menu sarapan informasi khas detikPagi secara langsung (live streaming) pada Senin-Jumat, pukul 08.00-11.00 WIB, di 20.detik.com, YouTube dan TikTok detikcom. Tidak hanya menyimak, detikers juga bisa berbagi ide, cerita, hingga membagikan pertanyaan lewat kolom live chat.

"Detik Pagi, Jangan Tidur Lagi!"




(vrs/vrs)
Berita Terkait
Berita detikcom Lainnya
Berita Terpopuler

Video

Foto

detikNetwork