Studi terbaru dari Institut Teknologi Bandung (ITB) mengonfirmasi bahwa jenis komponen campuran (blending components) yang digunakan dalam BBM memiliki pengaruh signifikan terhadap emisi kendaraan bermotor. Studi ini menggunakan model MOVES (Motor Vehicle Emission Simulator) dari US EPA untuk mengevaluasi hasil emisi pada berbagai formulasi bensin di Jakarta dan Surabaya.
"Analisis kami mengonfirmasi bahwa komponen oksigenat terbukti mengurangi emisi, terutama dengan penggunaan komponen eter, MTBE atau ETBE. Selain bahan bakar standar euro IV, penggunaan komponen ini membantu mengurangi polusi udara di lingkungan perkotaan yang padat seperti Jakarta dan Surabaya," ujar Prof. Puji Lestari, salah satu peneliti yang terlibat dalam studi tersebut.
Simulasi dilakukan terhadap sepuluh jenis bahan bakar yang mewakili rentang tingkat oktan (RON 90 hingga 95) serta berbagai jenis oksigenat yaitu MTBE, ETBE dan etanol. Hasil pemodelan menunjukkan bahwa bahan bakar yang dicampur dengan komponen berbasis eter (MTBE atau ETBE) memberikan pengurangan emisi paling signifikan dibandingkan jenis campuran lainnya.
Pertamax 92 dengan kandungan 14% MTBE diklaim terbukti efektif mengurangi emisi polutant PM2.5 hingga 40% dibandingkan dengan Pertalite R90 yang tidak mengandung MTBE. Kemudian Pertamax 92 dengan 14% MTBE juga disebut terbukti efektif menurunkan polutan VOC sebesar 4%.
Selain PM2.5 dan VOC, bahan bakar yang mengandung MTBE juga diklaim terbukti efektif dalam mengurangi berbagai zat beracun di udara. Seperti Butadiena (zat pemicu kanker) turun hingga 33%, Akrolein turun hingga 38% dan PAH (senyawa aromatik polisiklik yang bersifat karsinogenik) turun hingga 14%.
Direktur Eksekutif ACFA (Asia Clean Fuel Association), Serene Johnson mengatakan studi ini memperkuat adanya peluang jelas yang dapat diterapkan segera. Meningkatkan kualitas bahan bakar dinilai sebagai opsi kebijakan yang dapat dilakukan pemerintah untuk meningkatkan kesehatan masyarakat.
"Meningkatkan kualitas bahan bakar adalah salah satu jalur tercepat dan paling praktis yang tersedia saat ini untuk mengurangi emisi transportasi di Indonesia," imbuhnya.
Data menunjukkan polusi udara masih menjadi ancaman serius bagi jutaan penduduk di kota-kota besar Indonesia. Menurut data IQAir pada 5 Januari 2026, kualitas udara Jakarta masuk dalam kategori tidak sehat dengan Indeks Kualitas Udara (AQI) mencapai angka 174.
Pada periode yang sama, konsentrasi polutan PM2.5 sebesar 79,5 mikrogram per meter kubik. Angka itu jauh dari ambang batas aman (WHO) sebesar 15 mikrogram per meter kubik untuk rata-rata harian dan melampaui kisaran rata-rata harian Jakarta yang umumnya berada di rentang 25-45 mikrogram per meter kubik.
"Kondisi itu menempatkan Jakarta di posisi keenam sebagai kota dengan kualitas udara terburuk di dunia," ungkapnya.
(aid/fdl)