Jonan Izinkan Swasta Bangun Kilang Minyak, Ini Respons Pertamina

Michael Agustinus - detikFinance
Senin, 28 Nov 2016 13:30 WIB
Foto: Ari Saputra
Jakarta - Menteri ESDM, Ignasius Jonan, baru saja menandatangani Peraturan Menteri ESDM Nomor 35 Tahun 2016 tentang Pelaksanaan Pembangunan Kilang Minyak di Dalam Negeri oleh Badan Usaha Swasta (Permen ESDM 35/2016). Tujuannya ialah menekan impor BBM yang saat ini sudah mencapai 800.000 barel per hari (bph) atau 50% dari kebutuhan nasional.

Berdasarkan Permen ESDM 35/2016 ini, swasta diizinkan membangun kilang minyak. Kilang bukan lagi monopoli PT Pertamina (Persero). Swasta yang membangun kilang juga diizinkan memiliki Stasiun Pengisian Bahan Bakar Umum (SPBU) sendiri. Jadi BBM tidak harus dijual ke Pertamina.

Di sisi lain, menurut perhitungan Pertamina, dengan adanya 4 proyek modifikasi kilang (Refinery Development Master Plan/RDMP) dan 2 proyek pembangunan kilang baru (Grass Root Refinery/GRR) yang mereka jalankan, Sehingga Indonesia sudah swasembada BBM di 2023.

Pada 2022, Pertamina menargetkan kapasitas kilang minyak mereka sudah 2 juta bph. Kapasitas akan terus ditambah hingga mencapai 2,6 juta bph pada 2030. Keberadaan kilang swasta tentu berpotensi menggerus pasar BBM di dalam negeri yang dikuasai oleh Pertamina.

Meski demikian, Wakil Direktur Utama Pertamina, Ahmad Bambang, menyambut baik terbitnya Permen ESDM 35/2016. Menurut Bambang, kehadiran swasta akan mendorong Pertamina untuk meningkatkan kualitas produk dan pelayanannya.

"Kalau ada pesaing bagus lah, karena akan mendorong Pertamina lebih baik," kata Bambang melalui pesan singkat kepada detikFinance di Jakarta, Senin (28/11/2016).

Pihaknya pun menyiapkan strategi khusus untuk mempertahankan pasar BBM di dalam negeri. Tetapi Bambang enggan membeberkan karena masih 'rahasia perusahaan'.

"Strategi kami ya tidak boleh diumbar karena itu merupakan modal keunggulan. Kalau diketahui pesaing kan langsung ditangkal," ujarnya.

Bambang tak menutup kemungkinan melakukan ekspor BBM apabila kapasitas produksi kilang-kilang di dalam negeri melampaui konsumsi di dalam negeri. Hal itu mungkin saja terjadi jika seluruh proyek kilang Pertamina rampung sesuai jadwal dan ada tambahan lagi dari kilang swasta.

"Masih terus dikaji karena sangat dinamis," tutupnya. (hns/hns)