Follow detikFinance Follow Linkedin
Rabu, 01 Mar 2017 18:37 WIB

Pertamina dan PGN Berkorban Supaya Harga Gas di Sumut Turun

Michael Agustinus - detikFinance
Foto: Istimewa
Jakarta - Kementerian ESDM mengungkapkan, harga gas untuk industri di Sumatera Utara (Sumut) sudah dipangkas dari sekitar US$ 13,38/MMBtu menjadi US$ 9,95/MMBtu.

Pemangkasan harga sebesar lebih dari US$ 3/MMBtu ini efektif sejak 1 Februari 2017. Diharapkan industri di Medan dan sekitarnya bisa lebih efisien dan berdaya saing karena harga gas lebih murah.

Penurunan harga ini terjadi karena ada pemangkasan biaya di hulu, transmisi, dan distribusi. Pertamina dan PT Perusahaan Gas Negara Tbk (PGN) diminta pemerintah untuk berkorban.

"Harga gas di Sumut awalnya US$ 13,38/MMBtu. Apa yang kita lakukan? Kita minta badan usaha semuanya melakukan pengorbanan," kata Dirjen Migas Kementerian ESDM, IGN Wiratmaja Puja, dalam diskusi di Gedung Ditjen Migas, Jakarta, Rabu (1/3/2017).

Di hulu, pemerintah mengganti sumber gas untuk industri. Awalnya sumber gas adalah gas alam cair (Liquified Natural Gas/LNG) yang harganya US$ 7,8/MMBtu dan gas dari Pangkalan Susu yang harganya US$ 8,24/MMBtu.

Sekarang, gas untuk industri di Medan dan sekitarnya mendapat gas dari Blok North Sumatera Offshore (NSO) dan Pangkalan Susu. Pasokan LNG hanya untuk pembangkit listrik di Belawan, tak lagi untuk industri.

PT Pertamina EP menurunkan harga gas dari Pangkalan Susu yang tadinya US$ 8,24/MMBtu menjadi US$ 6,95/MMBtu plus 1% ICP (Indonesian Crude Price). PT Pertamina Hulu Energi (PHE) juga bersedia menurunkan harga gas dari Blok NSO menjadi US$ 6,95/MMBtu + 1% ICP.

Wirat menjelaskan, gas dari NSO yang menggantikan LNG harganya tentu lebih murah karena tak perlu ongkos regasifikasi. Biaya regasifikasi sebesar US$ 1,65/MMBtu hilang.

"Kita ganti LNG-nya dengan gas dari PHE NSO. Dari NSO enggak perlu regasifikasi lagi, kan gas pipa. LNG hanya untuk pembangkit listrik di Belawan, tidak lagi untuk industri," ucapnya.

Kemudian biaya transmisi pipa ruas Arun-Belawan (Arbel) yang awalnya US$ 2,54/MSCF pada 2016 diturunkan oleh PT Pertagas menjadi US$ 2/MSCF, lalu per 1 Februari 2017 diminta turun lagi oleh Kementerian ESDM menjadi US$ 1,88/MSCF.

Kemudian biaya transmisi pipa ruas Pangkalan Susu-Wampu milik PGN yang awalnya US$ 1/MSCF pada 2016 turun menjadi US$ 0,9/MSCF, sekarang diturunkan lagi menjadi US$ 0,8/MSCF. PGN juga menurunkan biaya distribusi gas dari US$ 1,4/MSCF menjadi US$ 0,9/MSCF.

"Biaya transmisi Arbel turun dari US$ 2,54 jadi US$ 1,88. Kemudian dari Pangkalan Susu ke Wampu dari US$ 0,9 jadi US$ 0,8. Biaya distribusi US$ 1,4 jadi US$ 0,9. Harga gas di ujung jadi US$ 9,95/MMBtu. Berlaku sejak 1 Februari 2017," papar Wirat.

Namun, sampai saat ini industri di Medan dan sekitarnya belum menikmati gas dengan harga US$ 9,95/MMBtu, karena perjanjian jual beli gas (PJBG) dari Blok NSO dan Pangkalan Susu masih dalam proses amandemen.

Setelah amandemen selesai, industri pengguna gas akan memperoleh kembali kelebihan pembayaran sejak 1 Februari 2017. PJBG berlaku mundur sampai 1 Februari 2017 meski ditandatangani setelah itu. "PJBG sedang ditata ulang sekarang, amandemen PJBG sedang dalam proses, berlaku mundur per 1 Februari," tutupnya. (mca/wdl)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detikfinance.com
Media Partner: kerjasama[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com