Follow detikFinance
Rabu 17 May 2017, 16:57 WIB

Ambisi RI Kembangkan Nuklir untuk Teknologi Kesehatan dan Pangan

Eduardo Simorangkir - detikFinance
Ambisi RI Kembangkan Nuklir untuk Teknologi Kesehatan dan Pangan Foto: dikhy sasra
Jakarta - Melalui Badan Usaha Milik Negara (BUMN) PT Industri Nuklir Indonesia (Persero) atau Inuki, Indonesia memproduksi nuklir menjadi radioisotop. PT Inuki menjadi satu-satunya BUMN yang bergerak dalam industri berbasis teknologi nuklir.

Radioisotop adalah zat yang memancarkan radioaktif nuklir. Berbagai jenis radioisotop yang diproduksi oleh Inuki biasanya digunakan untuk mendeteksi (diagnosa) penyakit, salah satunya kanker.

"Radioisotop Inuki ini biasanya untuk medis, khususnya untuk diagnosa penyakit, sekarang kan maju. Misalnya untuk fungsi organ yang akurat, untuk mengecek apakah tubuh saya itu punya bibit kanker dan segala macamnya, itu memang menggunakan radioisotop," kata Direktur Utama Inuki, Bambang Herutomo ditemui di Kementerian Luar Negeri, Jakarta, Rabu (17/5/2017).


Selain memproduksi radioisotop, Bambang menjelaskan, Inuki tengah mengembangkan produk radioisotop lainnya untuk menghasilkan sinar gama yang digunakan untuk sterilisasi pada makanan dan pengawetan makanan.

"Dalam waktu lima tahun, kita fokus di pangan, pengawetan lewat teknologi sinar gama. Jadi radiasi gama itu bisa untuk mengawetkan bahan pangan, membunuh jamur, bakteri, ulat," ucap dia.

Teknologi sinar gama juga menjadi semakin prospektif lantaran adanya kebijakan negara-negara untuk menerima ekspor produk yang menggunakan bahan kimia, sehingga radiasi gama menjadi pilihannya.

"Sekarang ekspor kan tidak boleh pakai pengawet bahan kimia. Khususnya di Amerika kan sudah ditolak. Baik pangan, juga produk perikanan misalnya udang dan lain-lain hasil perikanan laut. Jepang itu kan sangat sensitif (pakai bahan kimia), jadi membunuhnya pakai sinar gama," ungkapnya.


Namun, usaha bisnis pemanfaatan teknologi nuklir di Indonesia masih jauh dari kata ekspansi. Hal ini disebabkan adanya kendala dari pengembangan kedokteran nuklir di Indonesia seperti misalnya langkanya tenaga ahli, masalah pengadaan radiofarmaka/radioisotop, biaya pemeriksaan yang dianggap mahal, dan belum dikenal oleh masyarakat luas.

"Karena banyak peralatan kedokteran nuklir yang sudah tua rusak, rumah sakit juga enggak memperbaharui," tutur Bambang. (hns/hns)


Komentar ...
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detikfinance.com
Media Partner: promosi[at]detikfinance.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed