Follow detikFinance Follow Linkedin
Kamis, 27 Sep 2018 17:56 WIB

Proyek PLTU 2 Cirebon Sudah Capai 24%

Sudirman Wamad - detikFinance
Teguh Haryono Direktur Corporate Affairs Cirebon Power (Foto: Sudirman Wamad) Teguh Haryono Direktur Corporate Affairs Cirebon Power (Foto: Sudirman Wamad)
Cirebon - Pembangunan Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU) Unit 2 Cirebon dengan kapasitas 1.000 MW terus digenjot. Progres pembangunan megaproyek milik Cirebon Power itu telah mencapai 24%.

Teguh Haryono Direktur Corporate Affairs Cirebon Power mengatakan megaproyek PLTU Unit 2 ditargetkan rampung pada 2022. Pada tahun ini, lanjut Heru, pembangunan PLTU Unit 2 fokus pada pemasangan struktur bangunan.

"Sekarang baru land development. Target pembangunannya empat tahun. Tahun ini harus terpasangan strukturnya, minimal 50 persen struktur bangunannya sudah terbangun," kata Teguh usai memberikan materi kuliah umum di kampus Unswagati Cirebon, Jalan Terusan Pemuda Kota Cirebon, Jawa Barat, Kamis (27/9/2018).


Kendati pembangunan megaproyek PLTU 2 Cirebon itu sempat tertunda lantaran mengalami kendala terkait izin lingkungannya, dikatakan Teguh, kondisi tersebut tak mengagnggu progres pembangunan. Bahkan, lanjut Teguh, progres pembangunan PLTU 2 dinilai lebih cepat dari yang ditargetkannya.

"Sekarang sudah mencapai 24 persen. Ini sudah lebih cepat dua bulan dari yang kita targetkan," ucapnya.

Lebih jauh, Teguh mengatakan pihaknya saat ini belum bisa menyerap tenaga lokal secara maksimal. Karena, proyek PLTU 2 masih dalam tahap pembangunan. Namun, Teguh mengaku akan memprioritaskan tenaga kerja lokal jika PLTU 2 sudah beroperasi.

"Target serapan tenaga kerja lokal akan kita naikkan sampai 60 persen, kompisisinya seperti itu. Kalau di PLTU unit 1 itu paling banyak tenaga kerja lokal. Kalau yang unit 2 ini kan masih pembangunan," ucapnya.

Seperti diberitakan sebelumnya, nilai investasi PLTU ini US$ 2,2 miliar atau sekitar Rp 28 triliun. Pembangunannya menggunakan dana internal juga pinjaman bank.


Untuk pembangunan ini, perseroan mengandalkan pinjaman dari Japan Bank for International Cooperation (JBIC), Korea Eximbank (Kexim), dan Nippon Export and Investment Insurance (NEXI). Pembiayaan ini juga bukan menjadi masalah karena penyelesaian pembiayaan (financial close) telah berlangsung 9 November 2017.

"Financial close itu adalah tahapan yang sangat penting semua proyek. Karena tanggal itu, maka seluruh pendanaan proyek dari modal sendiri atau equity dan pinjaman bank loan sudah ada di tangan kita semua. Jadi konstruksi bisa berjalan 100 persen," jelas Teguh. (dna/dna)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detikfinance.com
Media Partner: kerjasama[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com