Follow detikFinance Follow Linkedin
Kamis, 15 Nov 2018 13:27 WIB

Jonan Beberkan Dilema Pengembangan Energi Terbarukan di RI

Trio Hamdani - detikFinance
Menteri ESDM Ignasius Jonan/Foto: Agung Pambudhy Menteri ESDM Ignasius Jonan/Foto: Agung Pambudhy
Jakarta - Indonesia saat ini sedang mengembangkan energi ramah lingkungan atau energi baru terbarukan (EBT). Tidak sedikit investor yang berminat mengembangkan EBT di Indonesia, khususnya untuk listrik.

Berkaitan dengan itu, Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Ignasius Jonan meminta, dalam mengembangkan energi ramah lingkungan, pelaku usaha harus memerhatikan daya beli masyarakat Indonesia.


"Pemerintah sendiri selalu berpikir, kita fair saja yang bisa affordable (terjangkau), dan tarif listrik-nya bisa terjangkau kita oke," kata Jonan dalam acara Indonesia Energy Transition Dialogue Forum (IETDF) di Hotel Pullman, Jakarta, Kamis (15/11/2018).

Jonan memahami pengembangan energi terbarukan saat ini masih terganjal oleh biaya yang tidak sedikit. Maka ketika listrik dari EBT ini dijual ke masyarakat bisa-bisa harganya tidak realistis.


"Ilmuwan itu ingin apa yang diciptakan itu dipakai, saya sepakat. Tapi harganya berapa? kalau any cost itu namanya tidak realistis," sebutnya.

Oleh karenanya, butuh Insentif untuk membuat harga energi terbarukan terjangkau, namun insentif justru jadi perdebatan karena masih ada 2% masyarakat Indonesia yang belum menikmati listrik.


Dengan demikian masih menjadi pertimbangkan apakah insentif ini perlu diberikan untuk pengembangan EBT atau difokuskan untuk mendorong elektrifikasi di wilayah yang belum dialiri listrik.

"(Insentif) ini jadi perdebatan panjang di parlemen dan pemerintah. Ini insentifnya seperti apa," kata Jonan.


Tonton juga 'Akkasaraki, Mobil Hemat Energi Karya Mahasiswa Makassar':

[Gambas:Video 20detik]

(hns/hns)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detikfinance.com
Media Partner: promosi[at]detikfinance.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed