Impor Migas Bikin Tekor Neraca Dagang, Belum Ada Rencana BBM Naik

Hendra Kusuma - detikFinance
Selasa, 18 Des 2018 19:42 WIB
Wakil Presiden Jusuf Kalla/Foto: Hendra Kusuma/detikFinance
Jakarta - Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat neraca perdagangan Indonesia secara kumulatif dari Januari hingga November 2018 defisit US$ 7,52 miliar. Menurut data BPS defisit itu terjadi karena impor minyak.

Solusinya perlu ada penyesuaian harga bahan bakar minyak (BBM) penugasan yaitu Premium dan Solar subsidi. Maukah pemerintah menaikkan harga BBM?

Wakil Presiden Jusuf Kalla (Wapres JK) mengatakan pemerintah belum berencana menaikkan harga BBM Premium dan Solar.


"Kita belum putuskan itu," kata JK di Kantornya, Jakarta, Selasa (18/12/2018).

Sedangkan untuk BBM non subsidi, JK menjelaskan, harganya diatur masing-masing produsen, misalnya PT Pertamina (Persero) dan PT Shell Indonesia

"Untuk yang non subsidi, itu pasti ada penyesuaian. Saya tidak tahu, itu tergantung Pertamina, kalau tidak ada penyesuaian, nanti harganya akan berbeda dengan Shell, contohnya. Saya tidak tahu hitung-hitungannya, tapi nanti pasti ikuti harga pasar, memang hukumnya di situ," ungkap dia.


Berdasarkan data BPS per November 2018 nilai impor migas tercatat nilai ekspor migas US$ 1,37 miliar. Nilai ini turun 10,75% dibanding bulan sebelumnya.

Sepanjang Januari-November ekspor migas tercatat US$ 15.658,5 miliar, sementara impornya bengkak hingga mencapai US$ 27.81 miliar.

"Defisit ke depan upaya untuk genjot ekspor dan kendalikan impor berbagai kebijakan sudah disusun sehingga ke depan neraca perdagangan agar surplus," kata Kepala BPS Suhariyanto, Senin (17/12/2018).

(hek/hns)