Bagaimana Nasib Pengembangan Kilang TPPI di Tengah Badai Corona?

Herdi Alif Al Hikam - detikFinance
Kamis, 28 Mei 2020 13:18 WIB
Fasilitas Kilang Pertamina
Foto: Fasilitas Kilang Pertamina (Istimewa/Pertamina)
Jakarta -

PT Tuban Petrochemical Industries (TubanPetro) memastikan operasional perusahaan dan produksi tetap berjalan normal di tengah pandemi Covid-19. TubanPetro juga memastikan berbagai rencana pengembangan bisnis di anak usaha berjalan on the track dan tidak ada penundaan.

Direktur Utama TubanPetro Sukriyanto menyampaikan, program penugasan Pemerintah berupa peningkatan kapasitas produksi di anak usaha yakni PT Trans-Pacific Petrochemical Indotama (TPPI) terus dilakukan.

TubanPetro mendorong TPPI mengintegrasikan kilang aromatic dengan olefin dan downstream agar lebih efisien dan kompetitif. Sehingga, dapat meningkatkan produktivitas, profitabilitas dan sustainabilitas perusahaan.

Sukriyanto menjelaskan, saat ini terdapat beberapa proyek pengembangan kilang TPPI yaitu Revamp Platformer, dan Revamp Aromatik. Kemudian, TPPI akan melakukan pembangunan olefin cracker dan dilanjutkan pembangunan downstream olefin.

Di akhir 2019, TubanPetro telah menyuntikkan modal ke TPPI sebesar USD 70 juta dimana USD 35 juta akan digunakan untuk proyek revamping dimaksud. TubanPetro bersama dengan Pertamina berkomitmen untuk mendukung pendanaan untuk penyelesaian proyek revamping tersebut yang dijadualkan akan diselesaikan di akhir 2022.

Untuk revamp platforming, bertujuan meningkatkan kapasitas pengelolaan unit platforming dari 50 ribu barrel per hari menuju 55 ribu barrel per hari. Sedangkan Revamp Aromatik adalah untuk memproduksi 780 ribu ton pertahun paraxylene dari kapasitas saat ini sebesar 600 ribu ton. Hal ini dilakukan untuk menaikkan pendapatan perusahaan dan memenuhi kebutuhan domestik paraxylene serta menurunkan impor.

Peningkatan kapasitas TPPI ini dilakukan pasca tuntasnya proses konversi utang TubanPetro menjadi saham, serta masuknya Pertamina sebagai pemegang saham mayoritas di TubanPetro. Menurut Sukriyanto, pengembangan dalam rangka meningkatkan performance group dan mendukung roadmap pengembangan petrokimia Pertamina yang terintegrasi dengan bisnis migas Pertamina yang ada selama ini sehingga dimungkinkan untuk segera direalisasikan dalam waktu dekat.

Sukriyanto menegaskan, kemampuan perusahaan untuk mengembangkan bisnis di tengah Covid-19 menjadi bukti bahwa kebijakan restrukturisasi terhadap TubanPetro merupakan langkah tepat. Kini, TubanPetro konsisten melakukan perluasan kapasitas produksi di anak usaha.

Perusahaan optimis bisnis petrokimia ke depan akan tetap cerah. Apalagi di tengah Covid-19, berbagai produk alat kesehatan yang notabene memerlukan berbagai bahan baku dari petrokimia, dari sisi permintaan dan kebutuhan industri terus tumbuh. Seperti kebutuhan untuk produk alat kesehatan, obat-obatan, hingga masker medis.

"Kebutuhan terhadap produk petrokimia di tengah Covid-19 tidak berkurang. Di berbagai anak usaha, penjualan produk petrokimia kami juga tidak mengalami koreksi signifikan. Bahkan proyek penugasan untuk memperbesar produk paraxylene di TPPI terus berjalan," tegas Sukriyanto.

Kalau pun ada koreksi terhadap bisnis petrokimia, kata Sukriyanto, lebih dikarenakan nilai tukar dollar yang mengalami naik turun. Sementara dari sisi produksi, tetap berjalan seperti biasa. Karena itu, berbagai target bisnis hingga akhir tahun pun optimis akan tetap tercapai meskipun akibat Covid-19 terjadi penghematan. Namun Sukriyanto memastikan, penghematan itu untuk sektor-sektor yang tidak tidak terkait langsung dengan produksi.

"Untuk kapasitas produksi di anak usaha, tidak ada pengurangan sama sekali," tegas Sukriyanto.

Sukriyanto melanjutkan, saat ini telah dilakukan peningkatan kapasitas produksi polypropylene salah satu anak usaha TubanPetro, yakni PT Polytama Propindo (Polytama).

Pabrik Polytama yang sebelumnya memproduksi 240 ribu metrik ton per tahun, kini dapat memproduksi 300 ribu metrik ton per tahun. Ke depan, akan dibangun pula pabrik penghasil polypropylene kedua yang menggandakan kapasitas produksi saat ini, mengingat permintaan domestik atas polypropylene yang masih sangat tinggi.

Sekretaris Jenderal Asosiasi Industri Olefin, Aromatik, dan Plastik Indonesia (Inaplas) Fajar Budiyono sebelumnya menyampaikan industri manufaktur dalam negeri membutuhkan lebih dari 2 juta ton bahan baku kimia aromatik. Selama ini Indonesia masih mengimpor bahan baku kimia aromatik karena tidak tersedia di dalam negeri. Kata Fajar, jika kilang TPPI memproduksi aromatik, maka akan mampu subtitusi impor senilai US$2 miliar per tahun yang ujungnya menyehatkan keuangan negara.



Simak Video "Segarnya Brekecek Ikan Khas Cilacap"
[Gambas:Video 20detik]
(dna/dna)