Bicara Mafia Migas, Ahok: Itu Oknum di Dalam

Herdi Alif Al Hikam - detikFinance
Minggu, 28 Jun 2020 17:00 WIB
Mantan Gubernur DKI Jakarta Basuki Tjahaja Purnama alias Ahok meluncurkan buku Panggil Saya BTP di Gedung Tempo, Palmerah, Jakarta Selatan, Senin (17/2/2020).
Foto: Rifkianto Nugroho

Ahok menyebutkan dirinya mau menjadi komut demi membantu pemerintah untuk mengurangi defisit neraca berjalan Indonesia. Dia menyebut Pertamina memiliki pemasukan hingga sepertiga APBN, untuk itu harus diawasi dengan baik.

"Ya saya pikir untuk bantu kurangi defisit neraca berjalan kita, Pertamina ini revenuenya aja Rp 800 triliun, sepertiga APBN Indonesia. Jadi perusahaan Rp 800 triliun harus diawasi dengan baik, KPI-nya juga harus baik," sebut Ahok.

Ahok juga menyatakan indikator kinerja perusahaan (Key Performance Indicator/KPI) sering tidak diperhatikan selama ini di Pertamina. Dia mengatakan Pertamina pasti untung, namun kalau dibanding perusahaan dengan kapasitas yang sama dari luar negeri Pertamina masih kalah.


Petronas dari Malaysia misalnya, sudah bertengger di peringkat 150 pada perusahaan Fortune Global, sementara Pertamina cuma di posisi 175.

"KPI ini sering nggak diperhatikan, nggak ada kewajiban untung berapa, merem juga untung, persoalannya Petronas untung berapa, lu untung berapa. Kita masuk 175 Fortune Global, nah Petronas 150 bos. Kita harus bandingkan best practice yang setara dari negara lain," ungkap Ahok.

Kemudian Ahok juga mengatakan dia ingin menambahkan portofolio untuk dirinya sendiri. Dia menyebut Pertamina menjadi perusahaan paling besar yang pernah mempekerjakannya.

"Kedua buat portofolio saya kan, saya nggak pernah kerja di perusahaan begitu besar. Konglomerat terhebat juga nggak sebesar itu duitnya. Sekarang saya ditugasi jadi chairman untuk kontrol uang begitu banyak," papar Ahok.

Halaman


Simak Video "Ditanya soal Mafia Migas, Ahok: Saya Bukan Godfather"
[Gambas:Video 20detik]

(dna/dna)