Bahan Bakar Sampah Lebih Murah dari Batu Bara untuk Pembangkit

Herdi Alif Al Hikam - detikFinance
Selasa, 21 Jul 2020 15:40 WIB
PLTU Indramayu merupakan pembangkit listrik tenaga uap yang berada di kawasan Indramayu. Pembangkit listrik ini memiliki total kapasitas energi sebesar 3x330 MW
Foto: Dikhy Sasra
Jakarta -

Pabrik pengolahan sampah menjadi bahan bakar dengan metode Refuse-derived Fuel (RDF) di Cilacap, Jawa Tengah baru saja diresmikan. Menteri ESDM Arifin Tasrif mengatakan metode ini bisa memproduksi substitusi bahan bakar batu bara yang lebih murah untuk pembangkit listrik.

Metode RDF merupakan teknologi pengolahan sampah melalui proses homogenizers menjadi ukuran dan butiran kecil (pellet) yang selanjutnya dapat dimanfaatkan untuk sumber energi terbarukan dalam proses pembakaran pengganti batubara.

Arifin menjelaskan dari studi yang dilakukan olahan sampah dari pabrik pengolahan RDF ini bisa mensubtitusi 3% kebutuhan batu bara pada pembangkit listrik. Khususnya untuk PLTU di wilayah Cilacap.

"Dari studinya hasil olahan sampah ini pemanfaatan PLTU batu bara bisa 3% subtitusi kebutuhan batu baranya," ungkap Arifin saat meresmikan fasilitas pengolahan sampah RDF di Cilacap, yang disiarkan di YouTube, Selasa (21/7/2020).

Harga dari hasil olahan RDF sendiri menurut Arifin lebih murah daripada batu bara. Bila batu bara per tonnya dihargai US$ 40-50, hasil olahan RDF cuma US$ 20 per ton.

"Ini juga lebih murah dari batu bara. Harga yang dari datanya itu tadi Rp 300 ribu per ton, berati 20 dollar-an. Batubara kan US$ 40-50," ungkap Arifin.

Pabrik RDF yang baru diresmikan ini sendiri akan dioperasikan Pemerintah Kabupaten Cilacap bekerja sama dengan PT. Solusi Bangun Indonesia (PT. SBI).

Nantinya pabrik akan mengolah 120 ton sampah per hari. Dari ratusan ron sampah ini akan disulap menjadi kurang lebih 50 ton RDF.



Simak Video "Indonesia Akan Belajar Tangani Sampah dari Swedia"
[Gambas:Video 20detik]
(dna/dna)