'Harta Karun' RI akan Ditawarkan Luhut ke AS

Hendra Kusuma - detikFinance
Senin, 27 Jul 2020 19:00 WIB
FILE PHOTO: A bastnaesite mineral containing rare earth is pictured at a laboratory of Yasuhiro Kato, an associate professor of earth science at the University of Tokyo, July 5, 2011. REUTERS/Yuriko Nakao/File Photo
Foto: Reuters

Dari catatan pemberitaan detikcom, pasir timah yang biasa diekspor ilegal dari Bangka Belitung (Babel) merupakan tempat untuk menemukan 'harta karun' ini. Di dalam pasir timah mengandung mineral tanah jarang.

Tanah jarang juga disebut memiliki harga yang tinggi, bahkan bisa dijual hingga 10 kali lipat lebih tinggi dibanding timah itu sendiri. Komponen satu ini bahkan bisa digunakan untuk partikel nuklir, untuk Pembangkit Listrik Tenaga Nuklir (PLTN) hingga komponen elektronik.

"Tanah jarang atau rare earth ini mineral ikutan, dari proses pemurnian timah itu kan diayak istilahnya dimurnikan, dan mineral pasir itu mengandung tanah jarang atau monazite namanya," ujar Direktur Utama PT Timah kala itu, Sukrisno saat berbincang dengan detikcom, Minggu (28/6/2015).

Tanah jarang bisa diproses menjadi 12 komponen, termasuk monazite, thorium, dan lainnya. Salah satu yang paling potensial untuk dijual adalah monazite, yang dikembangkan PT Timah dengan membangun sebuah pabrik kecil pengolahan tanah jarang.

Melihat potensi besarnya, Badan Geologi Kementerian ESDM akan melakukan survei potensi rare earth alias tanah jarang. Survei ini akan dilakukan tahun depan.

Halaman


Simak Video "Luhut Minta Mal di Jabodetabek Tutup Pukul 19.00 WIB"
[Gambas:Video 20detik]

(hek/dna)