Pertamina Mau Pangkas Penjualan Premium?

Trio Hamdani - detikFinance
Senin, 05 Okt 2020 15:23 WIB
Petugas SPBU menggunakan alat pelindung wajah saat melayani pengendara motor di SPBU 34-16113, Cilendek, Kota Bogor, Jawa Barat, Selasa (5/5/2020). Petugas SPBU yang berhubungan langsung dengan pengendara tersebut menggunakan alat pelindung wajah sebagai upaya untuk melindungi diri, keluarganya maupun orang lain dalam upaya pencegahan penyebaran COVID-19. ANTARA FOTO/Arif Firmansyah/foc.
Foto: ARIF FIRMANSYAH/ARIF FIRMANSYAH
Jakarta -

Penjualan bahan bakar minyak (BBM) jenis Premium oleh PT Pertamina (Persero) mulai menurun dari waktu ke waktu. Perusahaan minyak dan gas (gas) milik negara itu memproyeksikan penurun penjualan Premium berlanjut hingga 2024.

CEO Commercial & Trading Subholding Pertamina Mas'ud Khamid menjelaskan penjualan harian BBM pada Januari 2019 mencapai 90 ribu kiloliter (KL) per hari, dimana komposisi Premium adalah 31,6 ribu KL dan Pertamax 10,3 KL.

"Hari ini kita lihat September 2020, Premium tinggal 23.000 KL per hari, sementara Pertamax-nya di 10,6-10,7 juta KL per hari," kata dia dalam rapat dengar pendapat (RDP) dengan Komisi VII DPR RI, Senin (5/10/2020).

Dia menjelaskan Pertamina telah melakukan upaya-upaya agar penyaluran Premium tepat sasaran sehingga penjualannya mengalami penurunan.

Nah, bagaimana 4 tahun kedepan? pihaknya memproyeksikan konsumsi BBM akan menjadi 106.000 KL per hari, dimana komposisi Pertalite 61.000 KL per hari atau tetap 57%. Lalu konsumsi Pertamax akan menjadi lebih banyak dibandingkan Premium.

"Yang menarik adalah Premium menjadi 13,8 ribu KL. Jadi premium di sini sudah kurang dari setengahnya Pertamax. Jadi Pertamax yang asalnya hari ini 10 ribu KL per hari menjadi 20 ribu-30 ribu KL per hari. Jadi nantinya di 2024 kalau regulasi tidak berubah, hanya mengandalkan pola marketing maka sales Premium akan menjadi sales 1/3-nya sales Pertamax," paparnya.

Dia menjelaskan Pertamina tetap sejalan dengan peraturan yang ada dalam menjual BBM, termasuk Premium. Proyeksi di atas adalah berdasarkan pola penjualan yang terjadi hingga kini.

"Tentu kami menyikapi regulasi yang ada baik dari Kementerian LHK dan pihak-pihak yang lainnya, pecinta lingkungan dan segala macam," tambah dia.

(toy/dna)