Serangan Roket ke Fasilitas Aramco 'Guncang' Pasar Minyak Dunia?

Hendra Kusuma - detikFinance
Selasa, 24 Nov 2020 14:38 WIB
Ilustrasi sektor migas
Foto: Ilustrasi Migas (Fauzan Kamil/Infografis detikcom)
Jakarta -

Senior pakar energi dan Presiden Kelompok Riset Energi Wina, Fereydoun Barkeshli mengatakan serangan roket ke fasilitas minyak milik Saudi Aramco akan berdampak terhadap kondisi pasar minyak internasional.

Apalagi serangan dilakukan beberapa saat usai pertemuan rahasia antara Menteri Luar Negeri Amerika Serikat (AS) Mike Pompeo dengan Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu di Saudi Arabia. Putra Mahkota Arab Saudi Pangeran Mohammed Bin Salman (MBS) dikabarkan ada pada pertemuan tersebut.

"Ini adalah waktu para pejabat tinggi Israel dan AS melakukan pertemuan tertutup di ibu kota. Mohammed Bin Salman dikatakan berada dalam pertemuan itu, sementara menteri luar negeri Saudi tidak terlibat atau bahkan diberitahu," katanya seperti dikutip dari en.abna24, Selasa (24/11/2020).

Namun begitu, dampak dari serangan roket ke fasilitas Aramco di kota Jeddah ini belum terlihat di pasar minyak internasional.

"Pagi hari pasar Eropa berhati-hati dan harga naik tipis. Namun demikian kenaikan harga minyak di saat stok melimpah. Kami harus menunggu bursa efek New York sore ini waktu Tehran," katanya.

Dia menyebut, harga saham Aramco menjadi US$ 37,4 pada penutupan pasar. Angka itu turun 7% dari harga pertama kali melantai di bursa saham yang sebesar US$ 38,7 per saham.

"Seorang analis pasar Saudi menyebutkan Aramco tampaknya mengalami masalah," ujarnya.

Sebagai informasi, Arab Saudi telah berkoalisi untuk mengintervensi serangan Houthi di Yaman sejak 2015, setelah kelompok pemberontak itu merebut Sanaa (Ibu Kota Yaman) pada tahun 2014.Konflik antara Houthi dengan Arab semakin parah karena negara itu berupaya memulihkan pemerintahan Presiden Abd-Rabbu Mansour Hadi.

Serangan Houthi telah membuat puluhan ribu orang, sebagian besar warga sipil, telah tewas dan jutaan orang mengungsi. PBB menyebut serangan Houthi sebagai bencana kemanusiaan terburuk di dunia.

(hek/dna)