Investasi Proyek DME Sangat Ekonomis, Berikut Bukti & Dampaknya

Jihaan Khoirunnisaa - detikFinance
Rabu, 09 Des 2020 23:31 WIB
Gedung Kementerian ESDM
Foto: ESDM
Jakarta -

Cadangan batu bara Indonesia relatif lebih besar dibandingkan dengan minyak dan gas bumi, yakni sekitar 38 miliar ton. Dengan tingkat produksi sekitar 600 juta ton, usia cadangan batu bara Indonesia diperkirakan sekitar 63 tahun apabila diasumsikan tidak ada temuan cadangan baru.

"Kebijakan Pemerintah saat ini, mendorong hilirisasi atau peningkatan nilai tambah batubara, salah satunya menjadi Dymethil Ether (DME) yang dapat digunakan sebagai substitusi LPG. LPG sendiri merupakan komoditi energi yang lebih dari 70% masih impor. Sehingga konsumsinya perlu disubstitusi untuk mengurangi tekanan terhadap neraca perdagangan dan meningkatkan ketahanan energi nasional," ungkap Plt. Kepala Badan Ltbang Kementerian ESDM Dadan Kusdiana dalam keterangannya, Minggu (6/12/2020).

Menurut Dadan, dalam rangka mendorong kebijakan hilirisasi batu bara, pelaku usaha yang melakukan peningkatan nilai tambah batu bara dapat diberikan perlakuan tertentu berupa pengenaan royalti sebesar 0%. Hal tersebut mengacu pada Undang-Undang Nomor 11 tahun 2020 tentang Cipta Kerja.

Salah satu proyek DME yang sedang dilakukan oleh konsorsium PT Bukit Asam Tbk (PTBA), Pertamina dan Air Product, dengan kapasitas input batubara 6 juta ton per tahun untuk dapat memproduksi 1,4 juta ton DME.

Sayangnya, pada bulan November 2020 kajian yang dilakukan oleh lembaga think tank menyebutkan bahwa proyek DME tidak masuk skala keekonomian dan menyebabkan kerugian tahunan sekitar USD 377 juta.

Menanggapi hal tersebut, Tim Kajian Hilirisasi Batu bara Balitbang ESDM melakukan analisis sekaligus mengkonfirmasi antara kajian lembaga think tank dengan Feasibility Study (FS) PT BA.

Hasilnya didapatkan bahwa proyek DME secara ekonomi layak untuk dijalankan. Perbedaan hasil kajian ini dikarenakan terdapat perbedaan asumsi data yang digunakan, metode perhitungan, serta pertimbangan multiplier effect dari proyek.

Asumsi harga LPG yang digunakan lembaga think tank tersebut sebesar USD365/ton, di mana hanya mencerminkan harga kondisi tahun 2020 saat demand energi rendah di masa pandemi.

Sedangkan asumsi harga LPG pada FS PT BA sekitar USD600/ton yang mencerminkan harga LPG rata-rata dalam 10 tahun terakhir. Hal ini diakuinya sangat berpengaruh terhadap harga jual DME.

Perbedaan lain terdapat pada asumsi harga dan kapasitas input batu bara. Asumsi harga batubara yang digunakan lembaga think tank sebesar USD37/ton.

Sedangkan FS PT BA sekitar USD21/ton yang merupakan harga batu bara PT BA kualitas rendah pada saat FS dibuat. Terkait input batubara ditemukan adanya selisih sebesar 500 ribu ton, di mana FS PT BA lebih efisien.

Di samping itu, metode perhitungan yang digunakan lembaga think tank sangat sederhana, di mana hanya memperlihatkan perhitungan satu tahun dengan asumsi biaya produksi DME sebesar USD300/ton yang mengacu pada referensi Plant Lanhua di China.

Sementara itu, PT BA telah melakukan Feasibility Study komprehensif dengan asumsi data (sebagaimana tabel) yang menghasilkan keekonomian proyek dengan Net Present Value (NPV) USD350 juta dan Internal Rate of Return (IRR) sekitar 11%, sehingga proyek ekonomis dan tidak rugi. FS PT BA juga telah mempertimbangkan dampak ekonomi lainnya.

Lebih lanjut Dadan menjelaskan bahwa terkait keekonomian proyek, setidaknya terdapat 6 poin dampak ekonomi dari hilirisasi batu bara untuk DME. Pertama, DME meningkatkan ketahanan energi nasional dan mengurangi ketergantungan impor LPG.

Penggunaan DME diperkirakan dapat menekan impor LPG hingga 1 juta ton LPG per tahun (kapasitas produksi DME 1,4 juta ton per tahun). Kedua, menghemat cadangan devisa hingga Rp 9,7 triliun per tahun dan menghemat Neraca Perdagangan hingga Rp 5,5 triliun per tahun.

Ketiga, akan menambah investasi asing yang masuk ke Indonesia sebesar USD 2,1 miliar (sekitar Rp 30 triliun). Keempat, pemanfaatan sumber daya batu bara kalori rendah sebesar 180 juta ton selama 30 tahun umur pabrik.

Kelima, adanya multiplier effect berupa manfaat langsung yang didapat pemerintah hingga Rp800 miliar per tahun. Keenam, pemberdayaan industri nasional yang melibatkan tenaga lokal dengan penyerapan jumlah tenaga kerja sekitar 10.570 orang pada tahap konstruksi dan 7.976 orang pada tahapan operasi.

Tidak hanya itu, lanjut Dadan, dalam mendukung implementasi substitusi LPG ke DME, Lemigas Balitbang ESDM telah melakukan uji coba terkait kompor DME.

"Hasil uji coba kami, menunjukkan bahwa efisiensi kompor meningkat dari rata-rata 61,9% dengan penggunaan LPG, menjadi 73,4% apabila menggunakan DME. Sehingga keperluan DME untuk kebutuhan memasak terjadi penurunan, lebih rendah dibandingkan kebutuhan kalori teoritisnya," pungkasnya.

(ega/hns)