Ini 6 Poin Positif DME untuk Indonesia

Jihaan Khoirunnisaa - detikFinance
Rabu, 09 Des 2020 23:55 WIB
Kantor Kementerian ESDM
Ilustrasi/Foto: ESDM
Jakarta -

Tim kajian hilirisasi batu bara Badan Litbang Kementerian ESDM mencatatkan bahwa proyek Dimethyl Ether (DME) secara keekonomian layak dijalankan. Guna mendukung proyek DME, kebijakan pemerintah yang perlu disiapkan antara lain kebijakan Harga Jual khusus Batubara, Harga Jual DME, dan Skema Subsidi DME.

"Selain keekonomian proyek, setidaknya terdapat 6 poin dampak ekonomi dari hilirisasi batubara dengan kapasitas produksi sekitar 1,4 juta ton DME. Benefit ini mungkin belum banyak diketahui publik," ungkap Plt. Kepala Badan Litbang Kementerian ESDM Dadan Kusdiana dalam keterangannya, Minggu (6/12/2020).

Berikut 6 dampak ekonomi dari proyek DME yang tidak hanya memperhitungkan aspek finansial, tapi juga akan memberikan nilai tambah yang lebih luas terhadap negara.

Pertama, DME meningkatkan ketahanan energi nasional dan mengurangi ketergantungan impor LPG. Dengan penggunaan DME, impor LPG dapat ditekan hingga 1 juta ton LPG per tahun, dengan kapasitas produksi DME 1,4 juta ton per tahun.

Kedua, menghemat cadangan devisa hingga Rp9,7 triliun per tahun dan menghemat neraca perdagangan hingga Rp 5,5 triliun per tahun.

Ketiga, akan menambah investasi asing yang masuk ke Indonesia sebesar USD2,1 miliar (sekitar Rp30 triliun).

Keempat, pemanfaatan sumber daya batu bara kalori rendah sebesar 180 juta ton selama 30 tahun umur pabrik.

Kelima, adanya multiplier effect berupa manfaat langsung yang didapat pemerintah hingga Rp 800 miliar per tahun

Keenam, pemberdayaan industri nasional yang melibatkan tenaga lokal dengan penyerapan jumlah tenaga kerja sekitar 10.570 orang pada tahap konstruksi dan 7.976 orang pada tahapan operasi.

Lebih lanjut Dadan menegaskan, hal ini sekaligus membantah kajian lembaga think tank yang menyebutkan bahwa kerugian tahunan proyek DME Indonesia mencapai USD 377 juta.

Dari hasil analisis dan konfirmasi tim kajian hilirisasi batu bara terhadap kajian lembaga think tank tersebut dengan Feasibility Study (FS) PT Bukit Asam (PT BA), tercatat secara keekonomian proyek DME menghasilkan Net Present value (NPV) sebesar USD 350 juta dan Internal Rate of Return (IRR) sekitar 11%. Sehingga dapat disimpulkan bahwa proyek ini ekonomis serta tidak mengalami kerugian.

(ega/hns)