Hindari Pembukaan Lahan, Menteri ESDM Kembangkan Bahan Biodiesel Baru

Abu Ubaidillah - detikFinance
Jumat, 22 Jan 2021 21:50 WIB
Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM),
Foto: Kementerian ESDM
Jakarta -

Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), Arifin Tasrif menjelaskan pentingnya peran biodiesel dalam memperkuat ketahanan energi nasional. Ini disampaikan dalam pertemuan IRENA 11th Session Assembly pada sesi Renewables and Pathway to Carbon Neutrality - Innovation, Green Hydrogen and Socioeconomic Policies yang diselenggarakan virtual.

Saat ini pemerintah tengah menyusun rencana strategi pengembangan biodiesel melalui mandatori B30 dan B40. Program tersebut akan dimonitor dan dievaluasi secara berkala dengan memfasilitasi terjadinya debottlenecking, meningkatkan infrastruktur pendukung, dan memastikan insentif tetap berjalan.

"Implementasi program B40 dan B50 saat ini sedang dalam tahap pengkajian komprehensif mengenai komposisi campurannya, evaluasi ekonomi yang juga mencakup kesiapan, bahan baku dan infrastruktur pendukungnya. Uji jalan B40 akan dilanjutkan dengan uji coba pada pembangkit listrik tenaga diesel yang sudah ada," kata Arifin dalam keterangan tertulis, Jumat (22/1/2021).

Mengenai upaya peningkatan penyediaan bahan baku biodiesel, Arifin mengatakan pemerintah tengah mengembangkan berbagai bahan baku yang berasal dari sumber daya alam domestik sebagai pengganti kelapa sawit. Pengembangan ini dilakukan dengan meminimalkan pembukaan lahan atau hutan.

"Kementerian ESDM bekerja sama dengan stakeholders terkait untuk menggunakan lahan reklamasi/pascatambang dan mengupayakan tanaman yang cocok berdasarkan kondisi lahan dan iklim," terangnya.

Realisasi pemanfaatan biodiesel untuk kebutuhan domestik hingga tahun 2020 adalah sebesar 8,46 juta kiloliter. Pemanfaatan biodiesel ini berdampak pada penghematan devisa sebesar Rp 38,31 triliun berdasarkan perhitungan menggunakan rata-rata MOPS solar 2020 sebesar US$ 50/BBL dengan kurs Rp 14.400 per dollar AS.

Selain menekankan pemanfaatan biodiesel, Arifin juga menyampaikan beberapa inovasi Indonesia menuju neutralitas karbon lewat co-firing PLTU, pemanfaatan refuse derived fuel (RDF), penggantian diesel dengan pembangkit listrik energi terbarukan termasuk berbasis hayati, pemanfaatan nonlistrik/nonbiufuel seperti biket, serta pengeringan hasil pertanian dan biogas.

Pemerintah dan BUMN (Pertamina) juga tengah mengembangkan green refineries untuk memproduksi green diesel, green gasoline, dan green avtur. Menurutnya, pada Juli 2020 lalu, Pertamina telah memproduksi D100 pada kilang berkapasitas awal 1.000 barel per hari di Sumatera.

Di sisi lain, pemerintah juga akan menyiapkan dukungan regulasi, insentif, dan infrastruktur pendukung, termasuk mendorong pengembangan industri pendukung. Selain pengembangan CPO hidrogenasi, demo pabrik mandiri diesel hijau juga tengah dikembangkan dan diharapkan bisa diuji pada Desember 2021 nanti.

Untuk diketahui, IRENA adalah badan internasional yang berupaya melaksanakan mitigasi perubahan iklim melalui pemanfaatan energi yang ramah lingkungan. IRENA bertujuan untuk membantu pengembangan dan pemanfaatan energi terbarukan secara luas melalui kegiatan-kegiatan yang konkret.

Indonesia menjadi anggota IRENA pada 7 September 2014 setelah meratifikasi Statuta IRENA pada Perpres RI Nomor 62 tahun 2014 tentang Pengesahan Statute of the International Renewable Energy Agency (Statuta Badan Energi Terbarukan Internasional). Keanggotaan Indonesia pada IRENA bisa mendukung upaya pemerintah dalam mengembangkan Energi Baru, Terbarukan dan Konservasi Energi (EBTKE) sesuai target pada Rencana Umum Energi Nasional (RUEN) yang telah ditetapkan.

(mul/ega)