BBM di AS bakal Langka, Kok Bisa?

Vadhia Lidyana - detikFinance
Rabu, 28 Apr 2021 10:10 WIB
Pemerintah lagi-lagi mengungkapkan soal rencana kenaikan harga BBM subsidi pada bulan Juni 2013 mendatang. Harga bensin premium akan naik menjadi Rp 6.500/liter, dan solar harganya menjadi Rp 5.500/liter.
Foto: Rachman Haryanto
Jakarta -

Permintaan akan bahan bakar minyak (BBM) di Amerika Serikat mulai meningkat, seiringan dengan aktivitas masyarakat di luar rumah yang hidup kembali. Sayangnya, Negeri Paman Sam itu tengah menghadapi kekurangan sopir truk tangki BBM.

Ternyata, kekurangan sopir truk tangki bisa menjadi ancaman kelangkaan BBM. Pasalnya, sopir-sopir tersebutlah yang bisa mengantarkan pasokan BBM untuk bisa diperoleh masyarakat.

Menurut National Tank Truck Carriers (NTTC), sekitar 20-25% armada truk tangki terparkir alias dikandangkan hingga musim panas mendatang. Hal itu disebabkan oleh kurangnya jumlah sopir. Jumlah itu dua kali lipat dibandingkan tahun 2019 yang hanya 10% dari total armada truk yang dikandangkan.

"Kami telah berurusan dengan kekurangan sopir beberapa waktu belakangan, dan pandemi memperparahnya. (Kekurangannya) semakin meluas," kata Wakil Presiden Eksekutif NTTC Ryan Streblow dilansir dari CNN, Rabu (28/4/2021).

Kekurangan ini diakibatkan oleh pandemi COVID-19 yang sempat menekan permintaan BBM pada tahun 2020. Sepinya permintaan membuat para sopir berhenti.

Pada tahun 2020, untuk mencegah semakin banyak sopir yang berhenti bekerja, Groendyke Transport, sebuah perusahaan kapal tanker Oklahoma berupaya terus memberikan pekerjaan alternatif kepada para sopir. Wakil Presiden Groendyke Transport Holly McCormick mengatakan, pihaknya bahkan melayani pengiriman untuk Amazon agar para sopir punya pekerjaan alternatif alias tak menganggur dan berhenti.

"Kami bahkan mengangkut kotak ke Amazon hanya untuk membuat sopir kami sibuk," kata McCormick.

Tak hanya itu, McCormick mengatakan, banyak sekolah pelatihan mengemudi tutup. Hal ini menyebabkan kurangnya angkatan baru untuk sopir truk tangki, dan kini pihaknya mempekerjakan orang-orang yang usianya sudah cukup tua.

Belum lagi kebijakan pembersihan baru yang ditetapkan pada tahun 2020, di mana pihak berwenang melakukan identifikasi sopir truk dengan pelanggaran narkoba atau alkohol. Aturan itu membuat sekitar 40.000-60.000 sopir kehilangan pekerjaan.

Untuk merekrut sopir truk tangki baru pun tak mudah. Pasalnya, sopir truk tangki harus memiliki sertifikasi khusus, SIM komersial, dan harus melalui pelatihan yang memakan waktu berminggu-minggu.

Banyak juga sopir truk tangki BBM yang beralih mengambil pekerjaan di sektor konstruksi yang telah berkembang pesat selama setahun terakhir. Para sopir truk tangki BBM juga banyak mendapatkan penawaran kerja dari operator kapal tanker dengan gaji yang menggiurkan.

Hal itu menyebabkan perekrutan sopir truk tangki BBM semakin sulit. "Saya harus menggandakan anggaran perekrutan saya untuk mendapatkan jumlah pengemudi yang sama," kata McCormick.

Jika masalah ini tak bisa diatasi, maka kelangkaan pasokan BBM bisa terjadi, dan implikasinya adalah harga melonjak. Harga rata-rata nasional untuk BBM reguler sudah mencapai rata-rata US$ 2,89 per galon, naik lebih dari 60% dibandingkan tahun lalu ketika harga dan permintaan berada di titik terendah.

(vdl/zlf)