Menuju Renewable Energy, PGN Optimalkan Pengelolaan Gas Bumi

Abu Ubaidillah - detikFinance
Kamis, 29 Apr 2021 18:27 WIB
Komisaris Utama PGN Arcandra Tahar
Foto: PGN
Jakarta -

PT Perusahaan Gas Negara Tbk melakukan berbagai upaya untuk menjaga keandalan dan keberlanjutan energi gas bumi. Khususnya di masa kini setelah melewati krisis akibat pandemi dan transisi menuju renewable energy.

Pasalnya, pandemi menyebabkan penurunan demand energi termasuk gas bumi yang cukup signifikan. Tahun 2021 ini dianggap menjadi momen untuk bangkit kembali melakukan ekspansi bisnis gas bumi termasuk LNG retail, mengingat adanya peluang besar akan demand gas yang meningkat di tahun-tahun mendatang.

"Menurut Wood Mckenzie, benar bahwa kebutuhan gas di tahun 2020 turun. Tapi pada tahun 2030, akan ada peningkatan sekitar 550 juta ton per tahun seiring dengan perkembangan proyek gas yang ada," ujar Komisaris Utama PGN, Arcandra Tahar dalam keterangan tertulis, Kamis (29/4/2021).

Arcandra menjelaskan kebutuhan LNG dunia untuk 10 tahun yang akan datang juga masih positif. Kebutuhan LNG dan gas tetap akan naik meski dengan perkembangan renewable energy yang akan menggantikan sebagai demand dari energi.

"Ada risikonya kalau virus (COVID-19) belum mampu diatasi pada tahun 2021, kebutuhan demand yang digambarkan tidak akan tercapai. Namun demikian, kita berharap dengan perkembangan proyek, vaksin, dan sebagainya, kebutuhan LNG akan naik. Kemungkinan besar akan menyamai seperti sebelum COVID-19 terjadi, diiringi dengan menggeliatnya ekonomi di tahun 2021," paparnya.

Arcandra mengatakan harapan untuk PGN adalah industri gas akan tetap tumbuh. Menurutnya gas adalah salah satu bentuk energi yang dibutuhkan dalam masa transisi dari fosil fuel menuju renewable energi. Ia mengatakan tidak bisa langsung memenuhi kebutuhan energi dari fosil fuel ke renewable energi, melainkan harus ada perantaranya salah satunya gas.

Direktur Strategi dan Pengembangan Bisnis PGN, Syahrial Mukhtar mengatakan akibat pandemi COVID-19 kebutuhan gas termasuk LNG di Asia Pasifik mengalami penurunan. Namun sudah mengalami kenaikan mulai tahun 2021 mengingat tahun ini sudah mulai rebound kembali naik walaupun belum sepenuhnya mencapai angka seperti sebelumnya.

Ada skenario pandemi yang dilakukan dengan ada pertumbuhan global LNG sekitar 4,2% berdasarkan data Bloomberg. Negara seperti China dan India sanagt concern terhadap energi ramah lingkungan dan hal itu dinilai akan meningkatkan demand energi di masa datang.

"Merupakan tanggung jawab besar bagi PGN dalam mengelola bisnis gas nasional untuk memenuhi kebutuhan gas domestik. LNG akan berperan semakin besar untuk menjaga keandalan pasokan gas untuk konsumen di seluruh sektor," ujar Syahrial.

Syahrial mengatakan PGN menerapkan konsep multi source dan multi destination untuk menjaga keandalan. Konsep tersebut memudahkan konsumen gas untuk mendapatkan gas dari PGN tanpa ketergantungan dengan sumber hulu tertentu.

Ia juga menyebut bagi PGN, LNG retail termasuk ke dalam bisnis baru yang akan dikembagkan penyediaan ifrastruktur dan aset yang dibutuhkan. Mengingat Indonesia banyak daerah yang belum terjangkau gas sehingga dengan pengembangan bisnis LNG akan mampu mencapai pelanggan-pelanggan potensial menggunakan virtual pipeline.

"Infrastruktur LNG di masa depan akan massif terutama dengan proyek penugasan Kepmen 13 di wilayah Indonesia Timur, serta mendukung program strategis perusahaan untuk dapat merambah di pasar LNG internasional," tambahnya.

Ketua Komisi VII DPR RI, Sugeng Suparwoto mendukung upaya-upaya eksplorasi dan pemanfaatan gas bumi. Menurutnya cadangan gas bumi kurang lebih ada 43,6 TCF sehingga diharapkan mampu mengatasi krisis energi fosil yaitu minyak di masa depan.

Ia juga mengatakan gas bumi bisa menjadi perantara di masa transisi menuju renewable energy dan bisa menjadi peaker di saat-saat tertentu khususnya untuk pembangkit listrik. Selain itu ada pertumbuhan LNG di tahun 2035 yang diperkirakan dari China, ASEAN, dan Asia Selatan (Bangladesh dan Pakistan). Thailand sebagai salah satu negara dengan konsumsi gas cukup tinggi di Asia Tenggara juga ke depan demand LG-nya akan meningkat.

Manager International Business Strategy and Development Department PTT Public Company Limited, Paramete Hoisungwan produksi gas domestik dan tambahan supply gas dari Myanmar di Thailand ke depan akan mengalami penurunan sehingga membutuhkan pasokan tambahan LNG. Tren demand LNG juga akan terus meningkat sekitar 4.500-5.000 MMSCFD sampai tahun 2048.

"Pemerintah mendorong untuk meningkatkan supply gas dengan mengimpor LNG dan memberikan mandat kepada PTT untuk mengembangkan infrastruktur LNG Receiving Terminal dengan kapasitas sekitar 7,5 MTPA yang akan selesai pada 2022. Dengan begitu, diharapkan dapat memenuhi demand gas yang tinggi dan mendorong pengelolaan gas dan LNG yang baik untuk mendukung ekonomi," kata Paramete.

(ega/hns)