MPN: Limbah Nuklir Jepang Bisa Cemari Laut dan Ancam Nasib Nelayan

Tim detikcom - detikFinance
Kamis, 27 Mei 2021 13:35 WIB
Peserta aksi memajang spanduk Tolak Pembuangan Limbah Nuklir Fukushima di Laut di Kawasan Patung Kuda, Jakarta, Senin (3/5/2021). Pembuangan limbah nuklir berpotensi menimbulkan pencemaran lingkungan laut.
Aksi unjuk rasa menolak limbah nuklir Jepang dibuang ke laut (Foto: Rifkianto Nugroho)
Jakarta -

Sekretaris Jenderal Masyarakat Perikanan Nusantara (MPN) Dr. Nimmi Zulbainarni, SPi, MSi meminta pemerintah Jepang mengkaji kembali rencana mereka yang akan membuang limbah nuklirnya ke laut. Pemerintah Jepang harus benar-benar menghitung dampak negatif dari pembuangan limbah nuklir tersebut terhadap lingkungan dan ekosistem laut.

Sebab dampak pembuangan limbah nuklir tersebut, apalagi dalam jumlah yang sangat besar akan berdampak pada ekosistem laut. Nimmi Zulbainarni mencontohkan sebuah peristiwa saat terjadi tumpahan minyak di Perairan Cilacap, Jawa Tengah beberapa tahun lalu. Minyak tersebut diketahui dibawa dengan Kapal dari Timur Tengah menuju Cilacap.

Dalam perjalanan dari Timur Tengah ke Cilacap tersebut tumpahan minyak juga tercecer sehingga terhadap masyarakat sekitar, khususnya para nelayan. Contoh lainnya, kata Nimmi, adalah peristiwa pencemaran lingkungan di Teluk Jakarta Utara akibat kebiasaan masyarakat membuang limbah ke laut. Padahal di sana banyak nelayan yang mencari ikan, juga kerang untuk dijual kembali.

Dengan dua contoh di atas, Nimmy melanjutkan, jika limbah nuklir Jepang jadi dibuang ke laut dalam jumlah besar maka akan berpengaruh terhadap lingkungan laut dan ekosistem di dalamnya. Apalagi jika pemerintah Jepang tidak mengelola dengan baik limbah nuklir tersebut sebelum di buang ke laut.

Laut akan tercemar dan ekosistem di dalamnya bisa terganggu sehingga mengancam nasib nelayan. Tak hanya nelayan Indonesia, sebab banyak nelayan dari negara-negara lain yang juga mencari ikan di Laut China Selatan dan lautan lain di Samudera Pasific.

"Banyak kapal dari Indonesia dan negara negara lain yang menangkap ikan di sana (Laut China Selatan) dan itu ada ikan, cumi cumi dan itu dieskpor tentu saja akan berpengaruh terhadap kandungan ikan di situ apakah mengandung timbal, mercury. Jadi dampak bukan jangka pandek tapi jangka panjang terhadap lingkungan dan manusia," kata Nimmi kepada wartawan, Kamis 27 Mei 2021.

Anggota Komisi IV Dewan Perwakilan Rakyat Daniel Djohan juga mengingatkan tentang bahanya dampak dari limbah nuklir yang akan dibuang pemerintah Jepang ke laut. Politikus Partai Kebangkitan Bangsa itu meminta pemerintah Indonesia untuk melayangkan nota protes keberatan. "(Limbah nuklir) Bahaya ini, harus serius direspons pemerintah dan langsung melayangkan nota protes keberatan, nanti ikan-ikan tangkapan sumber pangan yg dikonsumsi bisa tercemar dan membahayakan kesehatan masyarakat," kata Daniel.

Rencana Jepang membuang limbah nuklirnya ke lautan di Samudra Pasific ini diumumkan pada 13 April 2021 lalu. Rencananya limbah nuklir yang berasal dari pembangkit nuklir Fukushima yang bocor akibat gempa bumi dan tsunami pada tahun 2011 lalu akan dibuang dalam dua tahun mendatang. Sejumlah pihak menolak rencana limbah nuklir Jepang dibuang ke laut karena dianggap bisa membahayakan lingkungan laut dan mengancam ekosistem di dalamnya juga manusia.

(erd/nwy)