Startup Energi Dinilai Dorong Kemajuan Industri Lokal

Jihaan Khoirunnisaa - detikFinance
Jumat, 28 Mei 2021 22:16 WIB
Direktur Jenderal Energi Baru Terbarukan, dan Konservasi Energi (EBTKE), Dadan Kusdina
Foto: ESDM
Jakarta -

Kebutuhan akan energi berkelanjutan telah mendorong banyak pihak untuk ikut mencari solusi permasalahan di sektor ESDM, salah satunya melalui startup. Direktur Jenderal Energi Baru Terbarukan, dan Konservasi Energi (EBTKE), Dadan Kusdina menilai pembentukan startup ini sejalan dengan tantangan global dalam menciptakan green energy.

"Startup energi bersih mampu merevolusi teknologi energi dengan menawarkan peluang bagi industri lokal berkembang dan meningkatkan peluang kerja," katanya dalam keterangan tertulis, Jumat (28/5/2021).

Hal tersebut diungkapkannya saat membuka acara APEC Workshop on Achieving Business Sustainability for Clean Energy Startups secara virtual di Jakarta pada Kamis (27/5). Menurutnya, saat ini green energy tengah dimanfaatkan oleh negara-negara di kawasan Asia Pasifik untuk membangun ekonomi yang berkelanjutan.

"Konsep ini menekankan pada pemanfaatan sumber daya alam secara berkelanjutan dan peningkatan kualitas hidup, keadilan sosial, dan pengurangan risiko lingkungan," jelas Dadan.

Lebih lanjut Dadan menjelaskan merujuk pada laporan International Energy Agency (IEA) tahun 2019 ketergantungan pada sumber energi fosil masih tergolong tinggi dan terdapat gap dalam mengimplementasikan transisi energi.

"Perlu aksi yang lebih ambisius dalam mendukung efisiensi dan teknologi energi bersih serta mendapat dukungan dari para pemangku kepentingan," katanya.
Oleh karena itu, Dadan berharap kehadiran startup dapat memprakarsai proyek energi terbarukan serta menggairahkan iklim investasi. Sehingga memberikan dampak positif bagi masyarakat.

"Yang penting inisiatif ini berkontribusi pada pengurangan emisi gas rumah kaca, konsekuensi perubahan iklim yang mengancam mata pencaharian global dan juga mengurangi kerentanan ketergantungan energi dan beban keuangan atas impor minyak," tuturnya.

Ia menegaskan keberadaan proyek EBT dapat mengimbangi berkurangnya lapangan pekerjaan akibat penurunan industri ekstraktif dengan menciptakan lapangan kerja padat karya. Seperti halnya pembangkit PV Surya yang setiap pembangunan unitnya membutuhkan pekerja dengan jumlah dua kali lipat ketimbang pembangunan pembangkit batu bara atau gas alam

Selain itu, dia juga mendorong para pekerja sektor EBT agar semakin meningkatkan keterampilan dan skill demi terwujudnya ekosistem startup energi. "Tanpa pekerja terlatih dan berpengalaman, penggunaan energi terbarukan mungkin terlewat," tegasnya.

Adapun sejumlah hal yang dapat dilakukan oleh sektor publik dalam mendukung startup energi bersih, di antaranya dengan memberikan program pelatihan vokasi yang terintegrasi dengan kurikulum energi terbarukan, memberikan bantuan teknis, memastikan retensi tenaga terampil dan berpengalaman, serta mengembangkan rantai pasokan lokal.

"Sektor EBT tidak hanya membutuhkan profesi teknis, tetapi juga perencana dan administrator, seperti pengacara dan spesialis keuangan," tandasnya.

Sebagai informasi, APEC Workshop on Achieving Business Sustainability for Clean Energy Start-ups (EWG 02 2020A) merupakan salah satu Project Proposal yang disetujui pendanaannya oleh APEC dan merupakan project pertama Kementerian ESDM yang didanai sejak berdirinya APEC. Workshop ini berlangsung selama dua hari pada tanggal 27 - 28 Mei 2021 dengan tujuan untuk memberikan pelatihan kepada startup, sekaligus menjadi wadah bertukar pikiran para pemangku kebijakan serta pelaku bisnis energi bersih negara-negara APEC dalam rangka mengembangkan bisnis startup energi bersih berkelanjutan.

(ega/hns)