Kuatkan Ekosistem PLTS Indonesia, AESI Targetkan 1.000 Solarpreneur

Erika Dyah Fitriani - detikFinance
Selasa, 01 Jun 2021 20:45 WIB
AESI
Wakil Ketua Umum AESI Anthony Utomo (Foto: Erika Dyah Fitriani/detikcom)
Jakarta -

Pemerintah Indonesia dengan berbagai asosiasi masyarakat dan perusahaan telah mendeklarasikan Gerakan Nasional Sejuta Surya Atap pada 2017 lalu. Gerakan ini dimaksudkan untuk mendukung Kebijakan Energi Nasional, yaitu tercapainya 23% penggunaan energi baru dan terbarukan (EBT) di 2025.

Ada berbagai upaya yang dilakukan untuk menyukseskan gerakan tersebut, salah satunya yang dilakukan oleh Asosiasi Energi Surya Indonesia (AESI) melalui program Solarpreneur yang sedang disiapkan. Wakil Ketua Umum AESI Bidang Entrepreneurship, UMKM, dan Capacity Building, Anthony Utomo mengatakan salah satu cara paling cepat untuk mencapai target 23% EBT di 2025 adalah dengan menggunakan PLTS Atap.

Menurutnya, energi surya di Indonesia punya potensi karena relatif tersedia dalam jumlah yang sama sepanjang tahun. Akan tetapi, masih banyak kendala yang dihadapi sehingga energi surya ini belum bisa kick off di Indonesia. Untuk itu, ia berupaya menggandeng UMKM yang terdampak pandemi untuk mulai mengembangkan industri energi, khususnya energi surya di Tanah Air.

"Kita kalau lihat UMKM di Indonesia itu selalu didominasi pertanian, perikanan, perdagangan, hotel dan jasa. Industri UMKM di bidang energi dicari di nomenklatur di Indonesia manapun belum ada. Di situlah kita berusaha untuk menantang status quo ini," ungkap Anthony dalam Press Luncheon Ketua Umum dan Pengurus AESI di Jakarta, Selasa (1/6/2021).

Anthony menilai adanya peluang untuk mengembangkan UMKM energi. Melalui program 1.000 Solarpreneur, pihaknya akan mengadakan pelatihan-pelatihan dan roadshow secara konsisten ke seluruh Indonesia. Harapannya, program yang ditargetkan tercapai hingga tahun 2024 ini dapat meningkatkan kapasitas calon pengusaha UMKM energi agar industrinya bisa berkembang dengan sehat.

"Memang itu salah satu program AESI, kita mau bentuk ekosistem. Tidak hanya mendorong pasar tapi juga memastikan penyedia jasanya ada. Ini pastinya akan kita siapkan. AESI sebagai katalisator akan membuat training-training untuk mengakselerasi proses itu," jelasnya.

Pria yang juga merupakan Managing Director Utomo SolaRUV (PT Utomo Juragan Atap Surya Indonesia) ini pun berharap dengan adanya program Solarpreneur, orang-orang yang akan masuk ke industri energi telah memiliki cukup power untuk memberi pelayanan yang baik dengan pengetahuan dan modal bisnis yang baik pula.

"Optimisme ini harus kita bawa dan suarakan bahwa menjadi solarpreneur itu gampang, menjadi pengusaha energi itu bisa lho nggak harus Anda buat skala utility scale atau membuat biothermal atau PLTU. Kita mengajak UMKM teman-teman UMKM yang sekarang omzetnya turun dan menghadapi challenges di bidang masing-masing untuk intip bidang energi," katanya.

Ia pun menjelaskan bahwa energi surya sebagai EBT memiliki banyak potensi sebab dinilai sederhana, gampang direplikasi, dan pasarnya besar. Anthony pun meyakini, bidang ini memiliki masa depan yang cerah untuk diseriusi. Sebab, tren sustainability terhadap lingkungan tidak hanya berlangsung di Indonesia saja tapi juga terus digalakkan di seluruh dunia. Menurutnya, menjadi solarpreneur tak hanya menghasilkan cuan tapi juga ikut berbuat baik kepada planet.

Sementara itu, Ketua Umum AESI, Fabby Tumiwa menjelaskan dalam 6 bulan ke depan AESI akan melakukan uji coba terhadap 50 UMKM di seluruh Indonesia. Pihaknya akan menyiapkan orang-orang dengan skill bagus untuk dilatih agar memiliki sertifikasi.

"Lalu kita akan siapkan juga supply chain-nya, berupa modul surya dan inverter yang berkualitas dengan harga terjangkau. Jadi ketika mereka tawarkan ke konsumen, itu sudah jelas," pungkasnya.

Sebagai informasi, AESI sebagai asosiasi yang fokus di bidang energi surya telah didirikan sejak 2018 dan kepengurusannya dimulai sejak 2018 lalu. Kini, AESI memasuki periode kepengurusan kedua yakni 2021-2024 dengan Fabby Tumiwa sebagai Ketua Umum.

(akn/hns)