Kementerian ESDM Ajak Generasi Muda Pakai Listrik Tenaga Surya

Yudistira Imandiar - detikFinance
Minggu, 13 Jun 2021 10:39 WIB
Untuk meningkatkan kapasitas dan kebutuhan listrik di Pulau Gili Trawangan, Mataram, Nusa Tenggara Barat, PLN mengembangkan listrik tenaga surya dengan kapasitas pasokan 200 kWp + 400 kWp.
Foto: Dikhy Sasra
Jakarta -

Pemerintah RI masih berupaya meningkatkan penerapan Energi Baru Terbarukan (EBT). Sampai dengan tahun 2025, bauran EBT nasional ditargetkan bisa mencapai 23%.

Untuk mensosialisasikan dan memberikan pemahaman akan EBT jenis tenaga surya kepada anak muda, Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) bersama Society Renewable Energy (SRE) menggelar webinar series bertajuk Gerakan Inisiatif Listrik Tenaga Surya. Dalam webinar itu, para anak muda dibekali ilmu dan pengalaman teknis-komersial terkait pembangkit listrik tenaga surya atap atau solar rooftop.

Webinar tersebut diadakan setiap Jumat sore, yang dimulai 11 Juni 2021. Topik pembahasan setiap pekan dapat dilihat di media sosial Instagram @kesdm.

"Dengan berbagai challenge saat ini, realisasi pemanfaatan EBT sekitar 11%. Sesuai Kebijakan Energi Nasional, ditargetkan meningkat menjadi 23% tahun 2025. Di sisi lain, dari total potensi EBT sekitar 400 Giga Watt, 50% diantaranya atau yang terbesar adalah solar energy. Ini peluang bagi generasi muda untuk ikut aktif mempercepat pemanfaatan solar rooftop Indonesia," ungkap Koordinator Komunikasi dan Informasi Publik Kementerian ESDM Ariana Soemanto dikutip dalam keterangan tertulis, Minggu (13/6/2021).

Ariana menambahkan, agar pemanfaatan EBT dapat berjalan optimal, masyarakat perlu mempelajari ilmunya. Maka dari itu, webinar Gerakan Insiatif Listrik Tenaga Surya membekali pemahaman soal EBT jenis tenaga surya.

"Di webinar series kita belajar A to Z tentang PLTS, mencakup antara lain kebijakan, komponen dan pemasangan PLTS atap, perhitungan keekonomian, penghematan dan komersialisasi. Para peserta diharapkan ikut mulai dari webinar pertama hingga keempat setiap Jumat sore," papar Ariana.

Setelah ikut webinar series, lanjut Ariana, peserta yang dinilai potensial akan diberikan pelatihan lebih lanjut. Para peserta diharapkan dapat mengimplementasikan ilmunya dengan melakukan approach dan kerja sama ke potential market agar melakukan pemasangan solar rooftop.

"Nanti kita lakukan pendampingan lebih lanjut, termasuk networkingnya," imbuh Ariana.

Webinar pertama, Jumat sore (11/6) menghadirkan 2 Narasumber Ahli yang membahas "The Challenges of PV instalments: Case Study for Solar Rooftop PV", yaitu Direktur Tropical Renewable Energy Center Fakultas Teknik Universitas Indonesia Dr. Ing Eko Adhi Setiawan, dan Direktur Strategi Bisnis dan Portofolio PT Len Industri (Persero) Ir. Linus Andor Mulana Sijabat.

Eko menyampaikan sektor energi menjadi wadah inovasi yang tepat bagi generasi muda. Langkah ini terus didorong dalam upaya meningkatkan pemahaman teknis, finansial, dan pengalaman dalam mengembangkan bisnis di sektor EBT terutama energi surya.

"Justru sekarang ini semua sedang bergeliat, yang utility company sedang berpikir bagaimana bisa bertahan bisa bermain sektor energi ke depan dengan teknologi yang membuat (harga) murah. Pengalaman berpikir dan berinovasi akan mandek jika tidak mengembangkan dari sekarang," jelas Eko.

Eko memaparkan, berdasarkan penelitian yang dilakukannya, Vietnam menjadi contoh bagus dalam mendorong masifnya industri panel surya. Pengembangan PV Surya skala utilitas telah diberikan fleksibilitas untuk memobilisasi pendanaan dari semua sumber, termasuk pendanaan asing dan telah dibebaskan dari pajak penghasilan selama empat tahun pertama hingga mengizinkan sektor swasta membangun di jalur transmisi.

"Pendorong pengembangan ini bukan dalam konteks teknologi, tapi kebijakan yang menarik (bagi investor). Mereka tidak mempermasalahkan local content," ungkap Eko.

Sementara itu, Linus menguraikan secara teknis perbandingan tarif solar PV yang kian kompetitif dari tahun ke tahun. Ia memprediksi dalam lima tahun mendatang 20% dari pembangkit yang ada, berasal dari tenaga surya.

"Tahun 2015, tarif (PV) dari IPP sekitar 25 sen per kWh, sekarang orang banyak bisa jual di 6 sen per kWh. Makanya, kalau pakai PV turunnya bisa drastis," ulas Linus.

Pembangkit dari tenaga surya atap, sambung Linus, juga mampu menekan emisi. Linus turut memperhitungkan bagaimana PLTS Atap mampu membuat tagihan listrik lebih hemat.

"Kalau pasang 1 kW butuh atap 6 meter persegi bisa menghemat Rp 2,6 juta per tahun," rincinya.

Adapun webinar yang kedua hingga keempat akan dilanjutkan minggu depan setiap Jumat sore, dengan narasumber ahli dan materi pembahasan lebih teknis praktis yang saling melengkapi. Untuk informasi lebih lanjut dapat dilihat di media sosial instagram @kesdm.



Simak Video "Kampung Gesing, Desa dengan Listrik dari Panel Tenaga Surya, Yogyakarta"
[Gambas:Video 20detik]
(prf/hns)