Garap Studi Dekarbonisasi, Pertamina Gaet Perusahaan Jepang & ITB

Yudistira Imandiar - detikFinance
Sabtu, 19 Jun 2021 10:19 WIB
Pertamina
Foto: Pertamina
Jakarta -

PT Pertamina (Persero) menjalin kerja sama dengan Jepang Group (JANUS, JGC Corporation, J-Power) dan Institut Teknologi Bandung dalam studi penerapan Carbon Capture, Utilization and Storage and Enhanced Gas Recovery (CCUS/EGR) pada proyek lapangan Gundih di Cepu, Jawa Tengah.

Penandatanganan kerja sama studi tersebut dilakukan secara virtual pada Jumat (18/6) oleh Chief Executive Officer (CEO) Subholding Power and New & Renewable Energy Pertamina Dannif Danusaputro, bersama Representative Director and President of JAPAN NUS Co., Ltd Kazuhiko Chikamoto, Representative Director, President of JGC Corporation Yutaka Yamazaki, Director & Executive Vice President of Electric Power Development Co., Ltd (J-POWER) Sugiyama Hiroyasu, dan Wakil Rektor Bidang Research & Innovation ITB Prof. Ir. I Gede Wenten.

Dannif mengatakan kooperasi dengan Jepang Group dan ITB merupakan upaya Pertamina untuk berkontribusi mendukung komitmen Pemerintah Indonesia menurunkan emisi gas rumah kaca sebesar 29% atau atas dukungan internasional ditargetkan mencapai 41% pada tahun 2030. Komitmen global tersebut tertuang dalam Paris Agreement pada Konferensi Perubahan Iklim (The Conference of Parties-COP 21) di Paris.

Komitmen tersebut, lanjut Dannif, juga sejalan dengan penerapan prinsip Environment, Social and Governance (ESG) Pertamina. Kesepakatan para pihak pada proyek JSA CCUS/EGR di Lapangan Gundih ini akan menjadi tonggak salah satu inisiatif Pertamina untuk mengurangi emisi karbon.

Adapun potensi pengurangan CO2 yang bisa diperoleh sebanyak 300.000 ton CO2 per tahun dari total 3 juta ton CO2 selama 10 tahun. Hal itu juga berkaitan dengan potensi peningkatan produksi gas.

Dannif menjelaskan CO2 akan tersimpan di subsurface formation dan akan memberikan benefit Enhance Gas Recovery. CO2 yang tersimpan akan dinyatakan sebagai carbon credit yang akan di-share antara pihak Pemerintah Indonesia dan Jepang

"Kami diamanatkan untuk melakukan transisi, dari Pertamina sebagai perusahaan migas menjadi perusahaan energi, dimana kita akan meningkatkan portofolio dan bauran energi dari Energi Baru Terbarukan (EBT) serta pengurangan emisi CO2 untuk dekarbonisasi," papar Dannif dalam keterangan tertulis, Sabtu (19/6/2021).

Saat ini, kata dia, Pertamina sedang menyusun Roadmap Dekarbonisasi untuk mendukung pengendalian perubahan iklim global dan CCUS tersebut. Inisiatif tersebut digadang-gadang akan dapat berdampak pada pengurangan karbon secara signifikan.

Sementara itu, kerja sama studi kelayakan dengan Jepang Group dan ITB akan berlangsung dari Juni 2021 hingga Februari 2022. Selanjutnya akan dilaksanakan FEED dan EPC pada 2022-2024 dan diperkirakan akan beroperasi pada tahun 2026.

"Kami berinisiatif untuk ikut terlibat Joint Study ini. Semoga kita bisa segera masuk ke komersialisasi. Saya sangat mengapresiasi semua pihak dan saya berharap kita dapat bertemu setelah pandemi ini berakhir dan mewujudkan terobosan tersebut," ungkap Dannif.

Representative Director and President of JAPAN NUS Co., Ltd, Kazuhiko Chikamoto mengatakan dekarbonisasi adalah keharusan bagi pemerintah dan swasta di seluruh dunia. Pemerintah Jepang telah menetapkan target ambisius untuk pengurangan emisi CO2 sebesar 46% pada tahun 2030, dilakukan perubahan bersama untuk mewujudkan tujuan aspirasi tersebut.

Kazuhiko menambahkan CCUS di Lapangan Gundih bukan hanya proyek dekarbonisasi, tetapi juga model praktik terbaik proyek dekarbonisasi di kawasan Asia. Ini merupakan model yang sangat inovatif yang dapat dikembangkan lebih lanjut dalam waktu dekat.

"Kami sangat mengapresiasi Pertamina yang memberikan kami peluang besar di lapangan Gundih baru. Kerja sama ini adalah langkah besar yang belum pernah terjadi sebelumnya," sebut Kazuhiko.

(mul/ara)