Dari Olahan Sampah Biomassa, Warga NTT Kini Bisa Masak Lebih Murah

Nadhifa Sarah Amalia - detikFinance
Kamis, 24 Jun 2021 19:31 WIB
Pelet dari hasil olahan sampah biomassa.
Foto: PLN
Jakarta -

Ada yang berubah dalam kehidupan warga Desa Keliwumbu, Kecamatan Morolole Kabupaten Ende. Bila sebelumnya warga memakai minyak tanah atau kayu bakar untuk memasak, kini mereka mulai memakai pelet dari hasil olahan sampah biomassa.

Tak hanya itu, pelet dari Desa Keliwumbu juga telah dimanfaatkan untuk co-firing atau pencampuran biomassa dengan batu bara untuk bahan bakar di pembangkit listrik tenaga uap (PLTU) Ropa yang lokasinya tidak terlalu jauh dari Desa Keliwumbu.

"Sejak Desember 2020 di desa saya telah dibangun tempat pengolahan sampah. Saya dan teman-teman sangat antusias membantu tim PLN untuk segera membangun pengolahan sampah," ujar salah satu anggota pengolahan sampah Desa Keliwumbu, Stefanus Retang dalam keterangan tertulis, Kamis (24/6/2021).

Bagi Stefanus, kehadiran pengolahan sampah membawa angin segar yang sangat dibutuhkan warga. Pengolahan sampah menjadi solusi paling jitu mengatasi krisis energi di desanya. Selama ini, warga desa Keliwumbu memakai banyak kayu bakar dan minyak tanah untuk memasak.

"Harga minyak tanah di sini itu lumayan mahal. Kami mesti membeli satu jerigen isi 5 liter itu Rp 35.000 (Rp 7.000 per liter) dan setiap bulannya kami bisa menghabiskan biaya Rp 200 ribu-Rp 700 ribu. Malah, bila sedang langka harganya bisa mencapai Rp 10 ribu per liter. Sejak memakai pelet jadi jauh lebih hemat," jelasnya.

Sejak PLN hadir di desanya, Stefanus dan 7 rekannya menjadi pengelola pengolahan sampah serta telah diberikan pelatihan untuk pembuatan pelet dengan memanfaatkan sampah biomassa. Mulai dari sampah rumah tangga hingga rumput yang memang melimpah di wilayahnya. Tak hanya itu, para warga di sini sekarang memanfaatkan sampah biomassa yang sebelumnya terbuang sia-sia.

"Kontur daerah kami ini merupakan savana ladang rumput. Jadi bila rumput diambil, maka seminggu berikutnya sudah tumbuh lebat. Jadi kami tidak akan kekurangan materi sampah untuk dijadikan pelet," ujarnya.

"Kami bisa mengumpulkan sampah rumah tangga, sisa pertanian, perkebunan, dan lainnya. Pastinya kami tidak menebang pohon. Para warga desa perlahan mulai menyadari manfaat sampah dan kami juga lebih peduli pada lingkungan sekitar kami. Ada banyak manfaat yang sangat berguna dari sampah," tambahnya.

Dijelaskannya, dalam satu hari total sampah yang dihasilkan sebanyak 5 ton, yang jika diolah melalui proses peletisasi dengan konsep pengolahan sampah, maka dari sampah segar ini menyusut menjadi 2 ton.

"Pelet yang dihasilkan sebanyak 80% diserap untuk bahan bakar pembangkit PLTU Ropa dan 20% untuk kebutuhan memasak warga," ungkapnya.

Saat ini pemakaian pelet pada warga memang terkendala pada kompor. Namun, sekali lagi PLN telah punya solusi. Saat ini sedang dikembangkan kompor buatan SMK Negeri 2 Ende.

Mereka dilatih PLN membuat kompor pelet dengan teknik downdraft gasification jadi gasifikasi kompor (gasification stove). Kompor ini juga akan diluncurkan besok Jumat, 25 Juni 2021 bersamaan dengan acara Launching Continuous Firing Run.

Bupati Ende memberikan kompor gratis untuk 35 kepala keluarga (KK) di desa Keliwumbu. Tak hanya itu, PLN juga telah melatih pengrajin ke desa keramik yang berhasil membuat kompor pelet dari tanah liat yang lebih murah.

"Karena akan percuma kalau ada pelet tetapi warga tidak dapat memakainya karena tidak ada kompor. Semakin banyak warga yang memakai kompor pelet ini, maka warga banyak terbantu," ungkapnya.

"Saya dan warga merasa pelet ini menguntungkan. Selain itu, pengolahan sampah ini menjadi solusi bagi pengelolaan sampah di desa-desa," tambahnya.

Klik halaman selanjutnya

Efek Domino

Nusa Tenggara Timur (NTT) merupakan provinsi ketiga termiskin di Indonesia. Masalah ketersediaan energi yang terjangkau itu menjadi salah satu pemicu angka kemiskinan di wilayah ini. Kehadiran shelter pengolahan sampah sejak Desember 2020 di Desa Keliwumbu, Kabupaten Ende menjadi solusi jitu untuk menyediakan energi bersih pengganti minyak tanah warga.

Manager PLN UPK Flores, Lambok Renaldo Siregar bercerita tujuan awal PLN membangun pengolahan sampah di Desa Keliwumbu adalah untuk membantu mengelola sampah biomassa dengan mengolahnya menjadi pelet di tempat pengolahan sampah. Pelet tersebut lalu akan dijadikan bahan bakar pengganti di PLTU Ropa.

"Namun ternyata dari hasil penelitian kami menemukan kalau pelet sampah yang kita hasilkan sangat bermanfaat untuk masyarakat. Karena masyarakat di sini masih memakai kayu bakar atau minyak tanah saja. Minyak tanah mahal, sedang asap kayu bakar berbahaya. Sehingga kami uji coba dan ternyata pelet itu bisa dipakai untuk memasak. Dan juga lebih bersih karena menggunakan teknologi gasifier," terangnya.

Masih banyaknya penggunaan kayu bakar sebagai bahan bakar memasak membuat Pemerintah Kabupaten Ende mendukung upaya PLN untuk mencegah penebangan hutan untuk memenuhi kebutuhan memasak. Bersama Pemkab Ende, PLN menyederhanakan program co-firing untuk mendorong ketersediaan energi untuk rakyat.

"Jadi, secara tidak langung kita juga membantu pemerintah untuk menurunkan jumlah subsidi minyak tanah. Bupati Ende ambisinya agar pada tahun 2030 di NTT itu subsidi bahan bakar minyak tanah itu bisa turun 50%," ungkap dia.

Dengan penggunaan pelet diharapkan bisa membantu meningkatkan kesejahteraan warga setempat. Jika daya beli masyarakat membaik tentu saja pertumbuhan penjualan listrik juga bisa terdongkrak.

"Kami sudah hitung selisih BPP (Biaya Pokok Produksi) dengan pemakaian pelet itu sekitar Rp 130 juta per tahun. Tetapi dengan tumbuhnya UMKM, pembuatan pelet, produksi kompor maka penjualan listrik PLN bisa meningkat mencapai Rp 2,1 miliar," ungkap Lambok.

Kearifan Lokal dan Pengembangan Eduwisata

Lebih lanjut Lambok menjelaskan ada hal unik yang ditemui saat PLN membangun shelter pengolahan sampah di desa ini. Di sini PLN tidak perlu mengeluarkan biaya yang terlalu besar. Ini lantaran program pengolahan sampah itu sejalan dengan kebutuhan warga di sini karena harga minyak tanah begitu mahal.

Selain itu, ada nilai budaya atau kepercayaan masyarakat di kabupaten Ende ini tentang api. Api bagi warga Ende memiliki makna mandalam bahkan menjadi simbol kehidupan. Api merupakan sumber kekuatan yang mampu mengusir roh jahat. Tak hanya itu, api juga dipandang sebagai simbol kejayaan dan kerja keras (gotong royong).

"Bahkan api adalah simbol dari musyawarah untuk mufakat di mana api dapat memberikan kehangatan di tengah dinginnya suasana musyawarah. Sehingga mosalaki selaku pemimpin adat dapat menyelesaikan permasalahan sedang dihadapi masyarakat," jelas Lambok.

Terkait dengan pengolahan sampah, Lambok melanjutkan adanya budaya tentang 'api' yang berwarna merah inilah yang menjadi 'penyambung" komunikasi dan edukasi pengolahan sampah, Ende. Sebab bagi masyarakat Ende 'api' merupakan salah satu sumber kehidupan. Oleh karenanya pengolahan sampah di Ende mudah diterima oleh masyarakat.

Dalam pengembangan pengolahan sampah di Desa Keliwumbu ini, muncul gagasan untuk membuka eduwisata. Jadi para pengunjung nantinya bisa datang untuk melihat dan belajar langsung tentang proses pengolahan sampah.

Tak hanya itu, peserta dapat ke PLTU Ropa, melihat pembuatan kompor buatan SMK Negeri Ende, kunjungan ke ACIL yang mengolah sampah kantong-kantong plastik kresek untuk dibuat menjadi sofa, batako, dan paving block. Selain pengunjung bisa menikmati alam, budaya, dan sejarah yang ada di Ende.

Eduwisata ini juga akan diluncurkan Jumat, 25 Juni 2021, ditandai dengan kunjungan batch pertama bersamaan dengan launching continuous firing run. Teknis persiapan pengolahan sampah sendiri sudah berlangsung satu tahun.

Lambok berharap para wisatawan yang berwisata ke Labuan Bajo juga akan berkunjung ke Ende. Keunikan pengolahan sampah di Kabupaten Ende merupakan kabupaten pertama di Indonesia yang melaksanakan program pengolahan sampah secara lengkap.

Lambok menambahkan sampah merupakan isu dunia dan belum ada satu teknologi yang benar-benar universal untuk membersihkan sampah secara menyeluruh. Selama satu tahun pengolahan sampah di sini, pihaknya mampu menyinergikan semua komponen daerah Ende untuk mengolah sampah menjadi produk kreatif dan menjadi energi kerakyatan.

"Pelaksanakan eduwisata yang dilaksanakan 4 hari ke depan dan hanya bisa dibatasi 15 peserta. Tentu saja kami melaksanakan protokol kesehatan yang ketat. Kami terbuka untuk daerah yang ingin mereplika konsep ini silakan berkunjung ke Ende dan belajar langsung," pungkas Lambok.

(ncm/hns)