Eks Wamen ESDM Ungkap Jurus Bikin Bisnis Kilang Minyak RI Bisa Cuan

Aulia Damayanti - detikFinance
Jumat, 16 Jul 2021 22:45 WIB
Menengok Kilang Minyak Lepas Pantai di Dunia
Foto: Getty Images
Jakarta -

Konsumsi bahan bakar minyak (BBM) Indonesia terbesar di Asia Tenggara. Untuk memenuhi kebutuhan BBM dalam negeri, pembangunan kilang minyak dinilai sebagai salah satu opsi terbaik. Wakil Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) periode 2016-2019 Arcandra Tahar membagikan tips agar kilang minyak raup untung.

Menurutnya ada beberapa strategi yang bisa dilakukan, pertama lokasi kilang sebaiknya berada di pesisir pantai, digabung dengan petrochemical plant dan dekat dengan kawasan industri yang menjadi pembeli produk kilang dan petrochemical.

Lokasi di pesisir pantai dimaksudkan untuk memudahkan suplai crude dan perpindahan produk kilang dengan menggunakan moda transportasi laut. Ongkos perpindahan produk kilang ini menjadi murah.

"Akan tambah menguntungkan jika ada industri di dekat kilang dan petrochemical plant yang menjadikan produk kilang dan petrochemical sebagai bahan bakunya. Inilah yang dinamakan dengan kawasan terintegrasi yang memberikan nilai tambah pada setiap industri yang terlibat," katanya, dikutip dari Instagram resminya @arcandra.tahar, dikutip Jumat (16/7/2021).

Kedua, sumber energi yang dibutuhkan untuk mengoperasikan kilang berasal dari energi terbarukan. Tekanan untuk menjaga kenaikan suhu bumi kurang dari 2 degree celsius pada akhir abad ini semakin membuat industri migas terpinggirkan. Ditambah dengan rencana lembaga-lembaga keuangan dunia yang tidak mau lagi membiayai proyek-proyek migas seperti kilang ini.

"Padahal dalam dua dekade ke depan produk kilang dan petrochemical masih dibutuhkan oleh peradaban manusia," tulis Arcandra.

Ketiga, tidak mengunci spesifikasi kilang untuk crude tertentu. Kalau kilang didesain hanya untuk satu jenis crude maka saat crude tersebut sudah habis, kilang bisa menjadi tidak efisien. Dengan kata lain, pasokan crude sangat bergantung dari umur sumur minyak, sementara umur kilang bisa lebih panjang daripada umur sumur.

Meski bisa raup untung, Arcandra mengungkap kilang minyak juga memiliki dua resiko terbesar dalam bisnis. Pertama keamanan pasokan crude yang harganya ditentukan oleh mekanisme pasar. Kedua harga jual produk yang harganya juga ditentukan oleh mekanisme pasar.

"Perumpamaannya seperti dapur dan juru masak mengolahnya menjadi masakan Padang, selanjutnya dijual ke pelanggan yang harganya bisa mahal juga bisa murah tergantung daya beli masyarakat pada saat itu. Celakanya kalau daging sapinya mahal sementara rendang dijual murah. Rugi jadinya," katanya.

Adakah investor kilang yang lebih cerdas? Jawabannya ada. Caranya mereka tidak mau menanggung resiko dengan naik dan turunnya harga crude dan harga BBM. Mereka minta dibayar berdasarkan berapa volume crude yang mereka olah, misalnya USD4/bbl. Jadi mereka selalu untung dan tidak takut kalau harga crude melambung menjadi USD100/bbl.

"Ibaratnya untuk restoran Padang, si pemilik restoran hanya menerima daging sapi kemudian diolah jadi Rendang dan dibayar berdasarkan berapa kilogram rendang yang mereka masak. Berkaitan dengan berapa harga daging sapi dan harga jual rendang yang naik turun bukan urusan mereka. Cerdas bukan!," tutup Arcandra

(dna/dna)