Electrifying Agriculture PLN Buat Omzet Petani Buah Naga Naik 3x Lipat

Erika Dyah - detikFinance
Minggu, 15 Agu 2021 21:33 WIB
Electrifying Agriculture PLN
Foto: PLN
Jakarta -

Petani buah naga di Pacet, Mojokerto meraup untung hingga tiga kali lipat sejak memanfaatkan listrik PT PLN (Persero). Salah satu petani, Agus Mulyohadi mengungkap kenaikan omzet ini ia rasakan berkat adanya program Electrifying Agriculture.

Ia menceritakan sebelum menggunakan lampu penerangan di kebun, panen hanya bisa dilakukan satu kali setahun yakni di bulan November-Desember. Adapun hasil panennya hanya sekitar 20 ton dari lahan seluas 4,5 hektare (ha).

Menurutnya, panen yang terjadi bersamaan dengan para petani lain membuat suplai buah naga melimpah dan harga anjlok. Ia menyebutkan buah naga saat musim panen dijual dengan harga berkisar Rp 3.000 hingga Rp 5.000 per kilogram (kg) saja.

Dengan program Electrifying Agriculture, Agus mengungkap tanaman buah naga dapat menjalani proses fotosintesis selama 24 jam dengan menggunakan lampu. Hal inilah yang membuat buah naga di kebunnya dapat dipanen sepanjang tahun dengan hasil panen bisa mencapai 60 ton.

"Untuk harga kisaran Rp 10.000 hingga Rp 25.000 per kg karena di luar musim," ungkap Agus dalam keterangan tertulis, Minggu (15/8/2021).

Meski ada investasi di awal pemakaian, Agus memastikan biaya tersebut lebih rendah dari hasil penjualan buah naga.

"Dari pengalaman ini, saya menyarankan para petani buah naga supaya pakai lampu agar bisa memaksimalkan hasil produksinya," imbuhnya.

Terlebih, Agus mengaku selama lebih dari empat tahun menggunakan listrik, keandalan pasokan listrik ke kebun buah naga dari PLN sangat terjaga.

"Alhamdulillah listrik dari PLN sangat bisa diandalkan," tegas Agus.

Sementara itu, General Manager PLN UID Jawa Timur, Adi Priyanto menjelaskan Electrifying Agriculture merupakan salah satu komitmen PLN melalui program PLN Peduli yang mencakup Tanggung Jawab Sosial dan Lingkungan (TJSL). Adapun program ini mendorong petani untuk memanfaatkan teknologi guna meningkatkan produktivitas pertanian melalui pemanfaatan energi listrik.

Ia menerangkan pihaknya menawarkan berbagai program kemudahan untuk meningkatkan produktivitas sektor pertanian di Mojokerto. Adi pun menyambut positif sektor pertanian yang menggunakan Electrifying Agriculture.

"Saat ini kami pun memiliki potensi 480 pelanggan sektor pertanian yang terdiri dari sumur sawah, bawang, hidroponik, kebun naga dan kandang ayam dengan total daya 2,14 MVA," terang Adi.

Adi mengungkap program Electrifying Agriculture tak hanya dilakukan untuk petani buah naga, akan tetapi juga diterapkan dalam rupa lampu untuk tanaman bawang dan hidroponik, hingga pompa untuk irigasi persawahan dan tambak udang. Dengan total 690 pelanggan Electrifying Agriculture, ungkapnya, konsumsi daya untuk program ini di Mojokerto telah mencapai 1.917.000 kVA.

Adi berharap dengan memanfaatkan energi listrik, pertumbuhan tanaman pertanian akan lebih maksimal. Selain itu, ia pun berharap Electrifying Agriculture dapat mempermudah pengolahan infrastruktur pendukung pertanian maupun peternakan dan perikanan.

Sebagai informasi, akan ada total 54 Program Electrifying Agriculture yang tersebar di beberapa wilayah kerja PLN se-Indonesia (Jawa, Bali, Sumatera, Kalimantan, Sulawesi, Nusa Tenggara, Maluku dan Papua) dengan alokasi anggaran sebesar Rp 4,8 miliar.

(ega/ega)