Ada PLTS untuk Irigasi, Petani di Sumsel Bisa Panen 2 Kali/Tahun

Nurcholis Maarif - detikFinance
Senin, 06 Sep 2021 13:51 WIB
PLTS - PLTMH Muara Enim
Petani di Desa Tanjung Raja sedang panen padi (Foto; Rengga Sancaya/detikcom)
Muara Enim -

Energi baru dan terbarukan (EBT) di Indonesia terus didorong pembangunannya, baik di kota, industri hingga di desa. Salah satu EBT yang dinilai mudah untuk dikembangkan ialah PLTS atap atau rooftop karena dinilai tidak memerlukan penyewaan lahan yang luas dan tidak memerlukan investasi yang besar.

Tak hanya untuk sebagai sumber listrik bagi warga untuk menerangi rumah, PLTS juga ternyata bisa bermanfaat untuk mendukung ketahanan pangan. Hal itulah yang dialami Kelompok Tani Sehati yang ada di Desa Tanjung Reja, Kecamatan Muara Enim, Kabupaten Muara Enim, Sumatera Selatan.

Ketua Kelompok Tani Sehati Hopaini menjelaskan sebelumnya kelompok tani yang beranggotakan 30 petani ini hanya memanfaatkan air hujan sebagai sumber utama pengairan sawah. Hal itu pulalah yang menyebabkan lahan sawah yang digarap para petani hanya bisa panen satu kali karena mengikuti musim penghujan.

Beberapa kali bahkan lahan mereka terancam gagal panen karena tidak menentunya musim. Selain itu, saat ini beberapa lahan sudah tak lagi digarap sebagai sawah. Total 20 hektare dari 60 hektare saja yang digarap untuk sawah.

Penyebabnya cuma satu, yaitu akses ke sumber air yang terlampau sulit. Pasalnya kawasan sawah ini dikelilingi perbukitan hingga terhalang jalan raya dan stasiun kereta ke sumber air terdekat, yaitu Sungai Enim.

PLTS - PLTMH Muara EnimPeletakan PLTS di jembatan tersebut dinilai menjadi yang paling tepat karena tidak memakan lahan warga (Foto: Rengga Sancaya/detikcom)

"Kalau selama ini (mengandalkan) air tadah hujan, karena sumber air kita yang terdekat itu Sungai Enim sekitar 1 km," ujar Hopaini kepada detikcom belum lama ini.

"Kalau tempat air yang lain misalnya embung nggak ada. Ada dari sini sekitar 3 km, lebih jauh lagi. Sebelum perencanaan (pemasangan PLTS) ke Sungai Enim, kita ambil di sana bekas eks tambang ada embung besar, mau alirkan, tapi terlampau jauh karena 3 km," imbuhnya.

Beberapa waktu lalu, Kelompok Tani Sehati mendapat bantuan CSR dari PT Bukit Asam Tbk, anggota holding industri pertambangan Indonesia atau Mining Industry Indonesia (MIND ID), berupa PLTS yang digunakan sebagai sumber irigasi sawah. PLTS berkapasitas 16,5 Kw ini berdiri di atas jembatan yang menjadi jalan lalu lalang warga.

Peletakan PLTS di jembatan tersebut dinilai menjadi yang paling tepat karena tidak memakan lahan warga. Selain itu, lokasi ini juga dipilih karena paling pas untuk mendapatkan terik matahari. Saat ini warga setempat disebut ingin menjadikan PLTS ini sebagai ikon Desa Tanjung Reja.

Listrik yang dihasilkan dari PLTS tersebut digunakan untuk memompa air dari Sungai Enim menuju lahan persawahan dengan panjang pipa hingga 1 km dan ketinggian dari sungai hingga bak penampungan air sebesar 30 meter. Pipa dengan ketebalan 6 mm tersebut ditanam di dalam tanah dengan kedalaman 1-1,5 meter dan melewati jalan raya hingga gorong-gorong stasiun kereta api di atasnya.

Pembangunan CSR ini menghabiskan biaya hingga Rp 990 juta. Data dari PTBA, PLTS di Tanjung Raja untuk irigasi sawah merupakan satu dari tiga PLTS dari program CSR PTBA. Selain itu, PTBA juga memiliki CSR PLTS di OKI yang digunakan untuk sumber listrik sekolah.Program ini sejalan dengan noble purpose MIND ID, yaitu We explore natural resources for civilization, prosperity and a brighter future.

PLTSPLTS di Tanjung Raja untuk irigasi sawah merupakan satu dari tiga PLTS dari program CSR PTBA (Foto: Sunandi Mimo/20detik)

PLTS pertama di Sumsel yang digunakan untuk irigasi sawah tersebut diresmikan Gubernur Sumatera Selatan pada bulan Maret lalu. Saat detikcom berkunjung ke sana, saat ini petani sedang memasuki musim panen pertama pasca pengoperasian PLTS tersebut.

"Selama ini kita kan bisa tanam paling satu kali satu tahun, diharapkan dengan adanya irigasi ini bisa 2 sampai 3 kali panen. Jadi kalau istilah dari Dinas Pertanian itu, kita yang pertama dari IP200, kita tingkatkan IP300 atau IP400. Jadi 2 tahun 5 kali panen, target ke depannya, kalau kebutuhan air memungkinkan target kita seperti itu," ujar Hopaini.

"Lahan-lahan yang belum tergarap ini waktu pengolahan kemarin airnya belum masuk, hujannya agak kurang, maka mereka tinggalkan. Tidak menutup kemungkinan dengan adanya air sudah mencukupi, mereka itu mau menggarap lahan yang belum tergarap selama ini," imbuhnya.

detikcom bersama MIND ID mengadakan program Jelajah Tambang berisi ekspedisi ke daerah pertambangan Indonesia. detikcom menyambangi kota-kota industri tambang di Indonesia untuk memotret secara lengkap bagaimana kehidupan masyarakat dan daerah penghasil mineral serta bagaimana pengolahannya.

Untuk mengetahui informasi lebih lengkap, ikuti terus beritanya di detik.com/jelajahtambang.

Simak juga Video: Jawa Barat Kembangkan Energi Alternatif Ramah Lingkungan

[Gambas:Video 20detik]



(ncm/ega)