China Dibayangi Krisis Listrik, Xi Jinping Genjot Produksi Batu Bara

Trio Hamdani - detikFinance
Senin, 11 Okt 2021 09:15 WIB
Presiden China, Xi Jinping, menyerukan agar China dan Amerika Serikat (AS) bersatu untuk memerangi pandemi virus Corona.
Foto: AP Photo
Jakarta -

China di bawah Presiden Xi Jinping telah memerintahkan tambang batu bara di negaranya untuk meningkatkan produksi demi meredakan krisis listrik. Di sisi lain, Negeri Tirai Bambu sedang berjuang untuk menyeimbangkan kebutuhan listriknya dengan upaya mengatasi krisis iklim.

Menurut Securities Times milik negara dan China Securities Journal yang mengutip dokumen dari Administrasi Energi Mongolia Dalam, pihak berwenang di provinsi penghasil batu bara terbesar kedua di China itu telah meminta 72 tambang untuk meningkatkan produksi dengan total 98,4 juta metrik ton. Menurut media pemerintah, perintah yang disetujui pada Kamis itu segera berlaku.

Berdasarkan data pemerintah China baru-baru ini, angka tersebut setara dengan sekitar 30% dari produksi batu bara bulanan. Demikian disadur dari CNN, Senin (11/20/2021). Otoritas energi Mongolia Dalam tidak segera menanggapi permintaan komentar dari CNN Business.

Kekurangan listrik setidaknya telah menyebar ke 20 provinsi dalam beberapa pekan terakhir, memaksa pemerintah untuk menjatah listrik selama jam sibuk dan beberapa pabrik menghentikan produksi. Gangguan itu mengakibatkan output industri mengalami penurunan tajam bulan lalu dan membebani prospek ekonomi China.

Batu bara adalah sumber energi utama China yang banyak digunakan untuk pemanasan, pembangkit listrik, dan pembuatan baja.

Awal tahun ini, China telah menutup ratusan tambang batu bara atau mengurangi produksi di tengah dorongan nasional untuk mengurangi emisi karbon. China juga memberlakukan pembatasan impor batu bara dari pemasok utamanya Australia karena ketegangan politik antara kedua negara meningkat.

Akibatnya, pasokan batu bara turun tajam, meski permintaan melonjak karena pertumbuhan industri dan kondisi cuaca ekstrem. Hal itu telah mendorong harga batu bara ke rekor tertinggi dan mengakibatkan kelangkaan listrik yang meluas.

(toy/eds)