So Sad, Deretan Negara yang Sedang Dilanda Krisis Energi

Aulia Damayanti - detikFinance
Rabu, 13 Okt 2021 15:13 WIB
Petrol pumps out of use at a petrol station in London, Wednesday, Sept. 29, 2021. Prime Minister Boris Johnson sought to reassure the British public Tuesday that a fuel-supply crisis snarling the country was “stabilizing,” though his government said it would be a while before the situation returns to normal. Johnsons government has put army troops on standby to help distribute gasoline and help ease a fuel drought, triggered by a shortage of truck drivers, that has drained hundreds of pumps and sent frustrated drivers on long searches for gas. (AP Photo/Frank Augstein)
Foto: AP/Frank Augstein

India

Krisis energi juga menimpa India. Pasalnya pemerintah pusat India telah mendapatkan peringatan akan adanya potensi kekurangan batu bara termasuk di Ibu Kota India, New Delhi. Hal itu didorong oleh meningkatnya permintaan global namun tidak dibarengi dengan produksi yang cukup.

Stok batu bara di sebagian besar pembangkit listrik India telah turun ke tingkat yang sangat rendah. Central Electricity Authority (CEA) mencatat ada sebanyak 61 dari 135 pembangkit listrik tenaga batu bara di India memiliki pasokan batubara hanya dua hari, atau kurang. Stok batubara di 16 pembangkit listrik diantaranya telah turun ke nol.

Total stok bahan bakar di pembangkit listrik tenaga batu bara sekitar 7,2 juta metrik ton, diperkirakan cukup untuk empat hari, menurut data Kementerian Batubara. Badan tersebut menambahkan bahwa raksasa pertambangan milik pemerintah, Coal India memiliki stok lebih dari 40 juta metrik ton.

Uni Eropa

Uni Eropa dilanda krisis energi karena lonjakan harga gas dan listrik. Lonjakan harga itu didorong langkanya stok energi gas dan listrik menjelang musim dingin di Eropa. Jutaan orang UE pun diprediksi tidak mampu membuat rumah mereka hangat saat musim dingin tiba nantinya.

Mengutip CNN penelitian terbaru yang dipimpin oleh profesor di Universitas Manchester Stefan Bouzarovski dengan ketua jaringan penelitian kemiskinan energi Engager, menemukan bahwa saat ini 80 juta rumah tangga di Eropa berupaya menjaga rumah mereka cukup hangat sebelum pandemi.

Artinya, sekarang dengan adanya pandemi dan kenaikan harga membuat lebih banyak rumah tangga terancam terputus jaringan listrik dan gas karena tidak dapat membayar tagihan.

Mereka yang tak mampu bayar tagihan, karena turunnya pendapatan sedangkan tagihan meningkat selama pandemi. Pekerja di sektor ritel, perhotelan, dan penerbangan sangat terpukul, bahkan banyak yang kehilangan pekerjaan.

Guna mengatasi permasalahan ini, para ahli dan juru kampanye berpendapat kalau Uni Eropa harus membuat undang-undang larangan pemasok memutuskan rumah tangga dari sumber energi mereka dapat menjadi solusi jangka pendek.

Tetapi mereka memperingatkan bahwa hanya mengurangi ketergantungan pada gas dan memperkenalkan lebih banyak energi terbarukan ke dalam bauran energi dapat menjinakkan lonjakan harga dalam jangka panjang.

"Kita harus melihat akses ke energi sebagai hak asasi manusia dengan cara yang sama seperti kita melihat akses ke air sebagai hak asasi manusia," kata Martha Myers, juru kampanye keadilan iklim dan energi di Friends of the Earth Europe, yang merupakan bagian dari Right ke Koalisi Energi.


(zlf/zlf)