Makin Mesra! RI-Malaysia Lanjutkan Kerja Sama di Bidang Kelapa Sawit

Anisa Indraini - detikFinance
Senin, 25 Okt 2021 21:45 WIB
Sawit
Foto: Sawit (Istimewa/NSS)
Jakarta -

Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto memastikan Indonesia terus bekerja sama dengan Malaysia terkait kebijakan kelapa sawit. Hal ini disampaikannya saat melakukan pertemuan bilateral dengan Menteri Perusahaan Perladangan dan Komoditi Malaysia Zuraida Binti Kamaruddin di Jakarta.

"Saya ingin mengakhiri dengan menegaskan kembali komitmen kuat pemerintah Indonesia untuk terus bekerja sama dengan Malaysia. Saya percaya bahwa terlepas dari pandemi yang sedang berlangsung, ada banyak peluang yang harus dimanfaatkan kedua negara di tahun-tahun mendatang," kata Airlangga dalam keterangan tertulis dikutip detikcom, Senin (25/10/2021).

Airlangga menilai Malaysia merupakan salah satu mitra ekonomi utama dalam hal investasi dan perdagangan. Selama semester I-2021, Penanaman Modal Asing (PMA) yang berasal dari Malaysia mencapai US$ 706,8 juta dan tersebar di 1.324 proyek.

Dari sisi perdagangan barang, volume perdagangan bilateral antar negara telah mencapai US$ 15,03 juta pada 2020 dan US$ 13,43 juta selama Januari sampai Oktober 2021. "Hal tersebut menunjukkan intensnya hubungan bilateral kedua negara," tuturnya.

Indonesia sebagai Ketua Council of Palm Oil Producing Countries (CPOPC) mengajak negara-negara produsen kelapa sawit mengantisipasi kemungkinan terjadinya siklus harga minyak sawit mentah (Crude Palm Oil/CPO) melalui peningkatan konsumsi domestik sebagai alat manajemen permintaan.

Pengelolaan harga minyak sawit berkelanjutan dapat dicapai dengan melaksanakan program mandat B30 di Indonesia dan B20 di Malaysia. Strategi ini penting untuk menyeimbangkan pasokan dengan permintaan, yang akan menjaga harga CPO global.

"Hal penting yang ingin kami tekankan adalah pentingnya negara-negara anggota CPOPC mengintensifkan upaya untuk memastikan harga minyak sawit berkelanjutan. Kami menggarisbawahi tren positif atas pertumbuhan permintaan minyak sawit dan tren kenaikan minyak sawit secara umum," jelas Airlangga.

Airlangga mengapresiasi pembentukan CPOPC Scientific Committee untuk fokus pada penyusunan proposal penelitian yang tepat, mengkaji proposal penelitian, mendorong kegiatan penelitian dan pengembangan guna memberikan temuan penelitian dalam memperkaya pengetahuan terkait sektor kelapa sawit.

"Kami berharap komite dapat bekerja untuk kepentingan terbaik negara-negara anggota termasuk upaya melawan kampanye negatif terhadap minyak sawit," ungkap Airlangga.

Terkait maraknya kampanye negatif terhadap produk kelapa sawit, Airlangga menyebut Indonesia-Malaysia perlu melakukan kampanye positif terhadap kelapa sawit secara efektif, efisien dan tepat sasaran. Pihaknya sendiri mengapresiasi kemajuan program Countering Anti Palm Oil Campaign yang dilakukan CPOPC berdasarkan persetujuan negara anggota (Indonesia-Malaysia).

"Dalam waktu dekat, program kampanye positif diharapkan dapat dilakukan secara menyeluruh dengan melibatkan minyak nabati lainnya, tidak hanya fokus pada kelapa sawit. Publikasi kontribusi minyak nabati untuk memenuhi Sustainable Development Goals (SDGs) harus lebih sering disebarluaskan," pungkasnya.

(aid/dna)