Harga Minyak Mulai Turun, Gegara China dan AS Rujuk?

Sylke Febrina Laucereno - detikFinance
Jumat, 19 Nov 2021 08:07 WIB
Ilustrasi sektor migas
Foto: Ilustrasi Migas (Fauzan Kamil/Infografis detikcom)
Jakarta -

Harga minyak sempat melonjak gila-gilaan pada musim gugur ini. Kondisi ini membuat produsen minyak ketiban untung.

Tapi buntung buat para supir yang harus mengisi penuh tangki mereka. Dikutip dari CNN disebutkan beberapa waktu lalu harga gas di California juga mengalami kenaikan yang signifikan.

Tetapi minggu ini, tekanan mulai mereda. Hal ini karena West Texas Intermediate futures mulai masuk ke level terendah dalam 6 minggu terakhir setelah pasokan mulai terkendali.

Di Amerika Serikat (AS) sendiri harga minyak mulai turun tajam. Setelah diumumkan jika pasokan minyak di Cushing, Oklahoma mulai mengalami kenaikan.

Head of Oil Market Rystad Energy, Bjornar Tonhaugen mengungkapkan penurunan harga ini disebabkan oleh pembahasan Presiden AS Joe Biden dan Presiden China Xi Jinping terkait langkah menangani pasokan energi dunia.

Pertemuan yang dilakukan secara virtual itu menciptakan sentimen positif untuk koordinasi terkait minyak dunia.

Tonhaugen mengungkapkan kalangan investor menghadapkan pasokan 20 juta - 30 juta barel bisa tersedia bulan depan.

Kemudian International Energy Agency (IEA) memprediksi pasokan minyak dunia akan naik hingga 1,5 juta barel setiap harinya selama November dan Desember. Hal ini disebabkan karena produksi minyak di AS sedang meningkat.

Selain itu OPEC juga terus meningkatkan produksi. American Petroleum Institute mengecam pemerintah yang ingin mendorong produksi minyak dan gas dalam negeri karena tak sejalan dengan upaya memerangi krisis iklim.

"Keputusan pemerintah keliru di tengah situasi seperti sekarang," kata API dalam sebuah pernyataan.

(kil/das)