ADVERTISEMENT

Pabrik Feronikel Antam di Halmahera Timur Mau Rampung tapi Tak Punya Listrik

Achmad Dwi Afriyadi - detikFinance
Kamis, 02 Des 2021 18:00 WIB
Pembangunan Pabrik Feronikel Antam
Pabrik Feronikel Antam (Foto: Dok. Antam)
Jakarta -

Progres pembangunan pabrik feronikel PT Aneka Tambang Tbk atau Antam di Halmahera Timur telah mencapai 98%. Pabrik dengan kapasitas 13.500 ton nikel per tahun ini belum bisa operasi karena menunggu pasokan listrik.

Direktur Operasi dan Transformasi Antam Risono mengatakan, sisa 2% dari pembangunan tersebut adalah terkait pasokan listrik.

"Bahwa secara porogres smelternya sudah 98% nah yang 2% ini memang menunggu ketersediaan listrik," katanya dalam rapat dengar pendapat dengan Komisi VI, Kamis (2/12/2021).

Dia mengatakan, pabrik ini menelan investasi Rp 4,04 triliun. Mayoritas investasi berasal dari penyertaan modal negara (PMN).

"Project ini sendiri total investasinya Rp 4,04 triliun di mana 80 persen lebih didanai oleh PMN," katanya.

Dia melanjutkan, Antam telah melakukan diskusi dengan PT PLN (Persero). Dalam diskusi terakhir, PLN bersedia memasok listrik. Rencananya, PLN akan merelokasi pembangkit dari Jakabaring dan Batang Hari.

"Rencananya PT PLN akan melakukan relokasi terhadap pembangkit listrik tenaga gas yang ada di wilayah Sumatera khususnya di Jakabaring yang kapasitasnya 50 MW dan Batang Hari yang mempunyai kapasitas 60 MW," ujarnya.

Relokasi ini maksimal berjalan 12 bulan. Meski begitu, ia menargetkan pabrik ini operasi September 2022.

"Kalau maksimal dari relokasi ini 12 bulan, jadi best effort-nya memang lagi diupayakan sehingga lebih cepat di bawah 12 bulan. Harapannya di akhir 2022 itu smelter sudah beroperasi, target kita September harus bisa beroperasi," katanya.

Pabrik ini sendiri sempat jadi sorotan ketika perombakan direksi Antam dilakukan. Staf Khusus Menteri BUMN Arya Sinulingga pernah menjelaskan, perombakan dilakukan sebagai bentuk penyegaran dan mempercepat eksekusi proyek di Antam.

Arya menyebut, ada beberapa proyek di Antam yang berjalan lambat salah satunya di Halmahera Timur.

"Kita mau kejar jadi yang lambat misalnya feronikel Halmahera Timur itu sudah sejak 2012," katanya.

Dia mengatakan, proyek ini berjalan lambat lantaran kendati pabrik sudah rampung tapi tak punya pasokan listrik.

"Kenapa feronikel ini kita jadi concern, pabriknya sudah selesai listrik, listriknya masih 0. Ketika pabrik itu selesai, harusnya listriknya selesai juga, ini nggak ada listriknya, akibatnya harus dibangun listrik lagi, akhirnya pabrik berhenti," tutupnya.

(acd/dna)

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT