Langkah RI Tekan Emisi, Penggunaan 'Harta Karun Energi' Digeber

Tim detikcom - detikFinance
Jumat, 14 Jan 2022 14:40 WIB
Pertamina Geothermal Energy Area Lahendong, Sulawesi Utara, merupakan wilayah WKP milik PGE  yang mengoperasikan pemanfaatan panas bumi pada Area Geothermal di daerah Lahendong-Tomohon. Setelah mengembangkan dan mengoperasikan PLTP Unit 1,2,3 dan 4 dengan kapasitas masing-masing unit sebesar 20 MW yang dilakukan bertahap sejak 2001 hingga 2011, mulai 2015 lalu PGE Area Lahendong memulai pengerjaan pembangunan PLTP Unit 5 & 6 dengan kapasitas 2 X 20 MW.
Pertamina Geothermal Energy Lahendong/Foto: Rengga Sancaya
Jakarta -

Peralihan ke energi yang ramah lingkungan tak bisa terelakkan. Penggunaan energi fosil diupayakan berkurang dan beralih ke energi hijau, salah satunya panas bumi atau 'harta karun energi'.

"Transisi energi yang berkelanjutan tak terelakkan. Hampir semua negara sudah memulai transisi energi hijau dengan bertahap mengurangi energi fosil," ujar Wakil Menteri BUMN I Pahala Nugraha Mansuri dalam salah satu sesi wawancara, dikutip Jumat (14/1/2022).

Isu peralihan energi diawali dengan perubahan iklim yang ditandai dengan kenaikan suhu global. Negara-negara di dunia berupaya menekan emisi dengan beralih ke energi yang ramah lingkungan.

Pahala mengungkapkan, langkah transisi energi harus dilakukan dengan nyata. Kementerian BUMN mendukung Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik (RUPTL) yang lebih hijau.

"Dalam RUPTL 2021-2030, porsi listrik dengan energi terbarukan (EBT) sebesar 51,57% atau setara 20.923 MW," ujar Pahala.

Porsi energi baru terbarukan (EBT) ditargetkan 23% pada 2025 dan 31% di 2050. Porsi EBT salah satunya ditingkatkan melalui pengembangan panas bumi atau 'harta karun energi'.

"Kita akan kembangkan geothermal, karena yang menguntungkan di geothermal. Target penurunan emisi dari perusahaan BUMN 85 juta ton CO2,'' tuturnya.

Geothermal atau panas bumi, lanjut Pahala, merupakan energi andalan Indonesia karena bisa dijadikan baseload. Biaya penyediaan energinya pun lebih murah dibandingkan EBT yang lain, yakni hanya US$ 7,6-8 sen per kWh.

''Bandingkan dengan baterai dari energi surya yang US$ 12 sen per kWh, jelas geothermal lebih murah. Sehingga, pemerintah menilai, geothermal punya potensi unik untuk dikembangkan," imbuhnya.

Peningkatan penggunaan geothermal itu juga untuk menekan impor BBM nasional. Sebab, saat ini, konsumsi BBM Indonesia sekitar 1,2 juta barel per hari. Kebutuhan BBM tersebut sebanyak 40% dipasok dari impor.

Pahala mengatakan, pihaknya mendorong BUMN untuk mengoptimalkan pengembangan geothermal di wilayah kerjanya sendiri. Apalagi, saat ini baru 9% wilayah kerja geothermal yang berproduksi dengan kapasitas hanya 1.900 MW. ''Kita masih punya potensi 19 GW, kita dorong bagaimana agar Pertamina Geothermal Energy mengembangkan area geothermal,''tukasnya.

Pertamina Geothermal Energy kelola 15 WK. Cek halaman berikutnya.