Harga Emas Lagi Loyo, Kinerja Nikel Antam Perkasa

Tim Detikcom - detikFinance
Minggu, 23 Jan 2022 09:52 WIB
Petugas butik emas Antam melayani seorang pelanggan di gerainya Gedung Antam, Jakarta Selatan. PT Aneka Tambang Tbk (ANTM) mengoperasikan Butik Emas Logam Mulia untuk menjual beragam produk emas batangan miliknya. (FOTO: Rachman Haryanto/detikcom)
Antam/Foto: Rachman Haryanto
Jakarta -

BUMN Holding Industri Pertambangan, mencatatkan kinerja positif pada segmen nikel yang diproduksi Antam secara undaudited pada 2021. Kinerja tersebut didorong mulai pulihnya ekonomi yang memicu permintaan nikel.

Untuk komoditas feronikel, pada tahun 2021 ANTAM mencatatkan produksi feronikel unaudited sebesar 25.818 ton nikel dalam feronikel (TNi). Ini relatif stabil jika dibandingkan tingkat produksi feronikel pada tahun 2020.

Direktur Utama ANTAM, Nicolas D. Kanter mengatakan volume penjualan feronikel pada 2021 tercatat mencapai 25.992 TNi.

"Capaian kinerja produksi dan penjualan segmen nikel ANTAM yang solid pada tahun 2021, mencerminkan upaya kami untuk menjaga pertumbuhan kinerja Perusahaan yang positif pada tahun 2021, seiring dengan tingkat pertumbuhan permintaan produk komoditas ANTAM yang positif," kata Nico ditulis Minggu (23/1/2022).

"Kami mengoptimalkan capaian kinerja produksi dan penjualan komoditas utama Perusahaan dengan menjaga biaya produksi tetap efisien," tambahnya.

Pada 2021, produksi bijih nikel unaudited ANTAM yang digunakan sebagai bahan baku pabrik feronikel ANTAM dan penjualan kepada pelanggan domestik, mencapai 11,01 juta wet metric ton (wmt). Jumlah tersebut meningkat 131% dibandingkan tingkat produksi tahun 2020 sebesar 4,76 juta wmt. Capaian kinerja penjualan bijih nikel unaudited ANTAM di tahun 2021 mencapai 7,64 juta wmt, tumbuh 132% dari realisasi penjualan di tahun 2020 sebesar 3,30 juta wmt. Seiring dengan outlook pertumbuhan industri pengolahan nikel di dalam negeri, di tahun 2021 ANTAM fokus dalam pengembangan pasar domestik bijih nikel.

Dia mengatakan, Antam tengah melakukan efisiensi dengan menurunkan biaya produksi serta implementasi kebijakan strategis terkait inisiatif efisiensi biaya yang tepat dan optimal.

Sementara itu, pengamat pasar modal Acuviarta Kartabi, mengatakan, meski terjadi penurunan harga saham emiten belakangan ini, hal itu lebih banyak disebabkan oleh faktor eksternal, seperti kondisi pandemi Covid-19 varian Omicron yang besar pengaruhnya terhadap pasar global.

Sementara dari aspek internal, termasuk kinerja perusahaan, masih dianggap positif sehingga menjadi faktor penunjang saham ANTAM bisa secepatnya rebound.

"Secara kinerja masih sangat bagus. Sangat positif. Sahamnya masih sangat prospektif," ujarnya.

(zlf/zlf)