Ekspor Minyak via Pipa Kaspia Terancam Anjlok

Anisa Indraini - detikFinance
Rabu, 23 Mar 2022 08:10 WIB
Ilustrasi sektor migas
Foto: Ilustrasi Migas (Fauzan Kamil/Infografis detikcom)
Jakarta -

Ekspor minyak Rusia dan Kazakhstan melalui Konsorsium Pipa Kaspia (Caspian Pipeline Consortium/CPC) dari Laut Hitam terancam turun hingga 1 juta barel per hari (bph) atau 1% dari produksi minyak global. Pasalnya tempat berlabuh rusak akibat badai.

Wakil Menteri Energi Rusia Pavel Sorokin mengatakan tempat berlabuh kedua juga bisa rusak setelah informasi awal bahwa satu dari tiga dirusak oleh badai. Pemeliharaan bisa memakan waktu hingga dua bulan yang dapat menyebabkan ekspor turun hingga 1 juta barel per hari.

"Akibat anomali cuaca, fasilitas CPC rusak. Ada risiko (tempat berlabuh kedua) juga rusak," katanya dalam video yang diposting Kementerian Energi Rusia dikutip dari Reuters, Rabu (23/3/2022).

Badai di bagian Laut Hitam Rusia telah merusak peralatan pemuatan CPC, salah satu jaringan pipa minyak terbesar di dunia yang mengirimkan minyak mentah dari Kazakhstan ke pasar global.

Pipa CPC telah menjadi sorotan sejak invasi Rusia ke Ukraina yang telah membatasi ekspor Rusia dan menyebabkan lonjakan harga minyak. Amerika Serikat (AS) telah memberlakukan sanksi terhadap minyak Rusia, tetapi aliran dari Kazakhstan melalui Rusia harus berjalan tanpa gangguan.

Pipa tersebut mengirimkan sekitar 1,2 juta barel per hari atau 1,2% dari permintaan global. Setiap gangguan besar pada alirannya akan menambah tekanan pada pasar minyak global yang menghadapi salah satu krisis pasokan terburuk sejak embargo minyak Arab pada 1970-an.

Sebagian besar minyak dalam pipa milik Rusia, Kazakhstan dan perusahaan minyak Internasional seperti Chevron (CVX.N). Dia mengekspor minyak dari pelabuhan Novorossiisk di Laut Hitam Rusia.

Operator pipa CPC awalnya mengatakan satu dari tiga titik tambat telah rusak akibat badai dan akan memakan waktu setidaknya tiga minggu untuk memperbaiki sambil menunggu kapal. Pihaknya berharap ekspor tidak akan terpengaruh karena dua tempat berlabuh lainnya dapat terus beroperasi secara normal.

Rumah perdagangan global utama seperti Vitol dan Trafigura memperkirakan gangguan minyak Rusia saat ini mencapai 2 juta hingga 3 juta barel per hari. Mereka mengatakan dunia hampir tidak dapat mengatasi gangguan yang melebihi 2 juta barel per hari karena akan menyebabkan lonjakan harga lebih lanjut dan resesi ekonomi.

Rusia mengatakan sanksi Barat sama dengan perang ekonomi. Para pejabat mengatakan Moskow akan menggunakan semua alat yang tersedia untuk mempertahankan diri, termasuk kemungkinan membatasi pasokan gas ke Eropa.

(aid/dna)