ADVERTISEMENT

Harta Karun RI yang Jadi Rebutan Dunia: Logam Tanah Jarang!

Ilyas Fadilah - detikFinance
Rabu, 04 Mei 2022 20:30 WIB
Logam Tanah Jarang
Logam Tanah Jarang/Foto: Shutterstock/
Jakarta -

Indonesia menyimpan sumber daya alam melimpah di sektor pertambangan. Salah satunya merupakan komoditas langka yang banyak diburu di dunia. Harta karun tersebut adalah logam tanah jarang atau rare earth.

Logam tanah jarang diklaim punya nilai ekonomi cukup besar. Tak heran jika banyak orang di dunia berlomba-lomba mencarinya. Lalu, apa sih yang dimaksud dengan logam tanah jarang?

Logam tanah jarang merupakan mineral ikutan yang bersifat magnetik dan konduktif, banyak digunakan di perangkat elektronik seperti ponsel, tablet, speaker, dan lain-lain. Selain itu, logam tanah jarang juga dimanfaatkan untuk sektor lainnya, mulai dari bidang kesehatan, otomotif, penerbangan, hingga industri pertahanan.

Dirjen Mineral dan Batubara Kementerian ESDM Ridwan Djamaluddin mengatakan Indonesia sebenarnya terlambat mengeksplorasi logam tanah jarang. Maka dari itu, saat ini belum banyak informasi pasti yang bisa didapatkan soal potensi yang ada.

Ridwan mengatakan ada sekitar delapan lokasi yang terpetakan memiliki kandungan rare earth di Indonesia. Namun itu pun masih baru dan masih dalam tahap eksplorasi awal.

"Dalam tahapan eksplorasi kita terbatas, dari potensi yang ada keterdapatannya ada di 9 lokasi, dan sudah terpetakan baru di 8 lokasi," ungkap Ridwan. "Dari 8 lokasi ini baru dilakukan eksplorasi awal secara umum kami sangat terbatas informasinya," katanya.

Ridwan mengatakan jika logam tanah jarang paling banyak ditemukan di Provinsi Kepulauan Banka Belitung. Potensinya mencapai puluhan hingga ratusan ribu ton logam tanah jarang. "Paling banyak memang ada di provinsi Kepulauan Bangka Belitung, khususnya di Bangka Selatan," katanya.

Dalam data yang dipaparkan Ridwan, Bangka Belitung memiliki potensi logam tanah jarang sebesar 186.663 dalam bentuk monasit dan 20.734 logam tanah jarang dalam bentuk senotim.

Selain di Bangka Belitung, potensi lainnya juga ditemukan di Sulawesi Tengah sebesar 443 ton dalam bentuk laterit, dan Kalimantan Barat sebesar 219 ton. Ada juga potensi di Sumatera Utara sebesar 19.917 ton.

Lanjut halaman berikutnya.

PT Timah menjadi salah satu perusahaan yang akan mengembangkan pengelolaan logam tanah jarang di Indonesia. Direktur Utama PT Timah Achmad Ardianto mengatakan saat ini pihaknya sedang mencari teknologi untuk mengekstraksi rare earth dari mineral monasit. Mineral tersebut banyak ditemukan di hasil tambang timah.

Achmad mengatakan pihaknya menjalin kerja sama dengan Canada Rare Earth Corporation untuk meneliti pengolahan logam tanah berbasis teknologi. Kerja sama ini bertujuan mencari teknologi yang dapat mengekstraksi rare earth dengan produksi 1.000 ton per tahun.

Menurut Achmad kebanyakan teknologi yang ada digunakan untuk memproduksi rare earth 4.000 ton per tahun. Sedangkan dari total potensi rare earth yang ada di Indonesia lebih cocok memakai teknologi yang dapat memproduksi 1.000 ton per tahun.

"Saat ini ada agreement dengan Canadian Rare Earth Corporation itu g to g, di-endorse oleh Kedubes Kanada. Kami melakukan kerja sama penelitian untuk mencari teknologi yang bisa di-scale down ke 1.000 ton," ungkap Achmad.

Proses penelitian diharapkan selesai tahun ini, di mana pada akhir tahun pihaknya bisa memutuskan apakah teknologi tersebut digunakan atau tidak. Bila teknologinya cocok maka tahapan EPC atau desain awal proyek pengolahan rare earth akan dimulai secara komersial.

"Kami harapkan tahapan penelitian bisa tuntas sebelum akhir tahun, jadi bisa kita putuskan go atau not go dengan teknologi ini. Kalau nggak cocok bisa kita cari yang lain," jelas Achmad.

(fdl/fdl)

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT