Smelter Freeport di Gresik Dikejar Rampung Akhir 2023

Aulia Damayanti - detikFinance
Selasa, 10 Mei 2022 15:51 WIB
Presiden Joko Widodo resmikan dimulainya proyek smelter PT Freeport Indonesia
Smelter Freeport di Gresik/Foto: Dok. Lukas - Biro Pers Sekretariat Presiden
Jakarta -

Presiden Direktur PT Freeport Indonesia (PTFI) Tony Wenas mengatakan konstruksi smelter (pemurnian) konsentrat tembaga di Gresik ditargetkan rampung pada akhir 2023. Saat ini progresnya baru mencapai 23% dengan total biaya hampir US$ 720 juta atau lebih dari Rp 10 triliun.

"Physical construction di akhir 2023, pre commissioning and commissioning dulu, yang jelas masih di masa pemerintah sekarang ini sudah bisa produksi," katanya saat wawancara bersama detiknetwork beberapa waktu lalu, dikutip Rabu (10/5/2022).

"Progresnya sudah mencapai 23% dengan total hampir US$ 720 juta atau lebih dari Rp 10 triliun. Itu investasi yang sudah dikeluarkan," lanjutnya.

Targetnya untuk akhir tahun ini progres pembangunan smelter tersebut mencapai 50% dengan total biaya yang dihabiskan US$ 1,6 miliar.

"Kan total investasi US$ 3 miliar atau Rp 42 triliun. Saya lihat akhir tahun ini tembus US$ 1,6 miliar dikali Rp 14.000 ya kira kira Rp 22 triliunan," jelasnya.

Untuk memenuhi biaya investasi smelter baru di Gresik, PTFI menerbitkan global bond yang dijual pada roadshow di Amerika Serikat beberapa waktu lalu. Tony mengatakan dalam penjualan global bond itu laku keras oleh investor internasional.

Tony mengatakan, investor yang ikut membeli global bond PTFI dari berbagai negara. Bahkan diungkapkan ada investor besar di antaranya.

"Dari banyak sekali negara, institusi ada beberapa nama besar di situ, ada 3 yang ambil 5 tahun dan 30 tahun. Izinnya PTFI di sampai 2041 tapi boundnya ada yang beli juga 30 tahun US$ 750 juta, 10 tahun US$ 1,5 miliar , dan ada 5 tahun," tuturnya.

Selain laku keras, Tony mengatakan global bond yang terjual melebihi kebutuhan dari PTFI, di mana dibutuhkan US$ 3 miliar tetapi yang didapat lima kali lipat menjadi US$ 15 miliar.

"Ternyata oversubscribed 5 kali jadi demand-nya ada US$ 15 miliar. Tapi yang kita butuhkan US$ 3 miliar. (Nggak mau nambah) Karena nggak ada kebutuhan, untuk apa kan business plan kita cuma sampai 2041," ungkapnya.

Lakunya global bond PTFI ini disebut menjadi bentuk kepercayaan investor internasional bukan hanya dari operasional PTFI, tetapi dari pengelolaan lingkungan yang dilakukan perusahaan.

"Kan sekarang investor sangat concern, nggak berani dia untuk dia harus mempertanggungjawabkan pemilik uang kalau misalnya membeli bond yang mencemari lingkungan. Environment, social yang kita lakukan kita spend rata-rata Rp 1,1 triliun tiap tahun," tutupnya.

(eds/eds)