Potensi Energi Baru Terbarukan RI 442 GW, Bisa Ekspor PLTS

Erika Dyah Fitriani - detikFinance
Rabu, 11 Mei 2022 16:41 WIB
Airlangga Hartarto
Foto: dok. Kemenko Perekonomian
Jakarta -

Penanganan pandemi COVID-19 di Tanah Air dalam 2 tahun terakhir berangsur baik, bahkan mengakselerasi pertumbuhan ekonomi hingga 5,01% (yoy) di Kuartal 1 2022. Hal ini pun membuat berbagai sektor industri terus didorong, salah satunya industri hijau.

Dalam acara Green Economy Indonesia Summit 2022, Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto mengatakan potensi energi baru terbarukan cukup besar, yaitu 442 giga watt untuk pembangkit listrik.

"Salah satu yang sedang didorong pemerintah adalah pengembangan Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS). Pengembangan PLTS di Jawa berbasis factory, roof top, sedangkan yang di luar Jawa berbasis PLTS yang sekarang disiapkan di Kepulauan Riau," ungkap Airlangga dalam keterangan tertulis, Rabu (11/5/2022).

Ia menjelaskan nantinya PLTS ini dapat digunakan untuk daerah Kepri sendiri, bahkan bisa diekspor ke negara lain.

"PLTS ini pasarnya ada dua, satu dari pasar tenaga listrik itu sendiri dan yang kedua karbon kredit. Dengan mempunyai PLTS, Indonesia bisa menjual dua produk listrik dan pasar karbon," jelasnya.

Sementara itu, di sektor transportasi, Airlangga mengungkap pemerintah terus mendorong program mandatory biodiesel yang mendorong penurunan energi setara dengan 23,3 juta ton CO2equivalent. Ia berharap program ini dapat mendorong sektor industri berbasis mobil listrik. Apalagi pemerintah tengah menyiapkan ekosistemnya, mulai dari hulu sampai ke hilir.

"Industri hijau menjadi tujuan utama di masa transisi energi dan tentunya ini pada akhirnya akan memberikan nilai tambah kepada ekonomi itu sendiri. Selain itu juga dapat menyerap tenaga kerja yang berkeahlian tinggi," terangnya.

Ia mengungkap hasil dari dua tahun penanganan pandemi yang diiringi akselerasi vaksinasi adalah tumbuhnya ekonomi Indonesia di kuartal pertama tahun 2022 hingga 5,01% (yoy). Menurutnya, pertumbuhan ini lebih tinggi dari berbagai negara lain, termasuk China dan Amerika Serikat.

"Salah satu yang menjadi engine of growth ekonomi kita di Q1 yang menggembirakan adalah tidak lagi dari belanja pemerintah tetapi dari kegiatan ekspor, impor, dan investasi yang dilakukan oleh masyarakat. Sektor produksi terus melakukan ekspansi dan kita lihat PMI nya positif," ujar Airlangga.

Pada kesempatan ini, Airlangga yang juga merupakan Ketua Komite Penanganan COVID-19 dan Pemulihan Ekonomi Nasional (KPC-PEN) pun turut mengingatkan masyarakat untuk wajib menggunakan masker meski kasus COVID mulai membaik. Ia juga berpesan untuk melakukan penerapan protokol kesehatan dan mendorong vaksinasi booster.

"Alhamdulillah penanganan COVID-19 sudah landai. Walaupun yang mudik lebih dari 80 juta orang, namun dari indikasi yang dimonitor sampai hari ini tidak ada lonjakan kasus," tutur Airlangga.

"Lesson learn dari COVID-19 adalah 3 kunci yang kita harus siap, terutama untuk penyakit yang berbasis paru-paru, yaitu masker, social distancing dan bagaimana men-deploy vaksin secepat-cepatnya nya," tegasnya.

Sebagai informasi, acara ini juga turut dihadiri oleh Wakil Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan, Sekretaris Jenderal Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral, dan Deputi Kerja Sama Ekonomi Internasional Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian.

(prf/hns)