Tarif dan Cara 'Isi Bensin' Kendaraan Listrik di Aeropolis Soetta

Shafira Cendra Arini - detikFinance
Kamis, 26 Mei 2022 08:30 WIB
PLN menyiapkan 9 SPKLU di jalur Tol Trans Jawa. Hal ini untuk memfasilitasi para pemudik yang menggunakan kendaraan listrik.
Ilustrasi SPKLU/Foto: Pradita Utama
Jakarta -

'SPBU Listrik' resmi dibuka di Aeropolis, Tangerang. Masyarakat yang berada di kawasan Bandara Soekarno Hatta kini tak perlu khawatir bila perlu mengisi daya kendaraan bermotor listrik miliknya.

SPBU Listrik atau yang lebih dikenal dengan nama Stasiun Pengisian Kendaraan Listrik Umum (SPKLU) ini merupakan yang ke-5 di Kota Tangerang, setelah didirikan di Aeon Tangerang, Karawaci, Tang City Mall, dan Kantor PLN UID Banten.

Stasiun yang dibangun di kawasan pertokoan di Aeropolis tersebut terdiri atas satu buah dispenser listrik untuk mobil dan satu SWAP Baterai untuk pengisian baterai motor dengan metode tukar baterai. Di SPKUL Aeropolis ini, dispenser listrik tersebut terdiri atas 3 gun atau pintu listrik berbentuk tembakan untuk mengisi daya, dengan tipe yang berbeda-beda dan total kecepatan pengisian 2 jam untuk mengisi mobil yang kosong hingga penuh.

"Di unit SPKLU Aeropolis ini tersedia unit medium dan juga slow atau biasa disebut home charging, yang memiliki 3 pintu charging antara lain tipe AC 22 kW, DC 25 kW khusus Tesla, dan DC 25 kW," ujar Nong Berbakat Kota Tangerang 2021, Dessy Setyaningrum saat menjelaskan sekaligus memperagakan penggunaan SPKUL dalam acar Peresmian SPKUL Aeropolis, terpantau oleh detikcom, Rabu (25/05/2022)

Dessy menambahkan bahwa estimasi tarif per kwh nya sebesar Rp 2.466. Menurutnya nominal ini dirasa cukup terjangkau.

Dalam acara yang sama, General Manager PT PLN (Persero) UID Banten, Sandika Aflianto mengatakan bahwa tidak hanya unggul dari segi emisi kendaraan dan ketahanan baterai, harga pengisian daya di SPKLU jauh lebih murah dibandingkan dengan BBM.

"Kalau saya melihat dari sisi hemat penggunaan BBM ya. Kalau membandingkan dengan listrik dan BBM saya sudah menguji sendiri. Dari jarak 30 km itu tidak sampai Rp 30-40 ribuan. Kalo menggunakan pertamax itu bisa capai Rp 90-100 ribu itu. Hampir hemat sekitar 60- 70%," ujar Sandika.

Pernyataan Sandika tersebut didukung oleh Direktur Sales dan Marketing PT Hyundai Mobil Indo Hendrick Wirajaya. Dia mengatakan bahwa sebagai pengguna aktif mobil listrik, dirinya merasa kalau mobil ini sangat irit. Hendrick menuturkan bahwa mobil ini hanya menggunakan tidak lebih dari 1 liter saja minyak atau oli.

"Pemakaiannya pun bisa sampai 40.000 km. Sebagai ilustrasi, kalau kita menggunakan kendaraan berbahan bakar minyak, untuk katakanlah 400 km, dibutuhkan 40 liter pertamax. Jika dikalikan Rp 12.500 jadi sekitar Rp 500.000. Sedangkan untuk mobil listrik ini hanya butuh Rp 55.000 saja untuk jarak tempuh sejauh 400 km. Jadi sangat terasa sekali jika dibandingkan," tambahnya.

Meskipun demikian, yang menjadi pertimbangan besar masyarakat ialah harga kendaraan listrik yang relatif lebih mahal dibandingkan dengan kendaraan konvensional.

"Harga mobil ini sekitar Rp 600 jutaan. Baterainya pun harganya bisa sampai 30-40 persen dari harga mobilnya, jadi cukup tinggi. Namun tidak usah khawatir karena baterai ini terdiri atas 8 slot, sehingga kalau terjadi kerusakan hanya perlu mengganti slot yang rusak saja, tidak kena ke keseluruhan baterai," ujar Dias dari Hyundai Mobil Indo.